dalam Menulis, Refleksi

Kegelapan

“Ada anak tak mampu mengenali ayahnya, teman mengorbankan temannya, tetangga memusuhi tetangganya. Kegelapan yang menimpa mereka tak mampu membuat akalnya berpikir, hatinya bertasbih, matanya melihat, telinganya mendengar”

Adakah yang sanggaup berjalan dalam kegelapan? Pastinya ia akan terseok-seok, bahkan bisa terjatuh ke dalam lembah yang tidak ia sadari. Tentunya, ia akan menjadi korban dari kegelapan yang dapat mengancam dirinya.

Atau mungkin saja keadaan begitu terang, namun—maaf saja—keadaan mata tak mak mampu lagi melihat, atau telinga tak lagi dapat mendengar. Sungguh sulit rasanya hidup demikian.

Ada sebagian umat manusia diberi oleh-Nya akal, namun tak dipergunakan. DiberiNya telingan, namun tidak digunakan untuk mendengar, diberiNya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat. Yang terpenting, diberinya hati tetapi tidak digunakan fitrah tersebut. Akibatnya, mereka hidup dalam kegelapan. Atau bahkan diri kita ini?

Bila pun keadaan gelap gulita, bisakah seseorang membedakan benda-benda yang berada di hadapannya dengan tanpa menyentuhnya? Tentu akan kesulitan. Apalagi hati yang gelap, ia sulit membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Baginya, mereka terbiasa dengan hal subhat. Barang temuan, dimakanlah. Barang yang tak tahu dari mana sumbernya, juga diembatnya-diterimanya.

Paling bahayanya lagi, kegelapan yang ada di dalam hati menyebabkan seseorang tak dapat lagi membedakan mana orang tua, mana anak, mana keluarga, mana teman. Seperti dalam keadaan gelap di suatu ruang, seseorang sulit mengenali dan membedakan benda-benda. Akibatnya, ada anak membunuh ibunya, ia benar-benar tak mampu melihat “ibunya”. Ada teman menipu temannya, temanpun tak mampu “melihat dan mengenali” temannya.

Keadaan hati yang gelap hanya menyisakan satu: “keuntungan hanya untuk dirinya sendiri”. Ia rela mengorbankan temannya, orang tuanya, anaknya. Yang terpenting, “dirinya selamat”. Sungguh ironis kenyataan ini. Kenyataan ini tak berbohong dan nyata terjadi.

Salah satu agar mata kita dapat melihat, telinga dapat mendengar, hati dapat berdzikir-pikir, dan akal dan bernalar adalah berdzikir dan mendekatkandiri kepada Allah dengan sunnah-sunnah hingga Allah mencintai kita.

Bila Allah telah mencinta seseorang, maka matanya dijaga dan difungsikanNya, begitu juga dengan telingannya, tangannya, kakinya serta hatinya. Bila ia memohon, Allah pasti akan mengabulkannya serta melindunginya. Wallahu ‘alam bisshawab.

Peran Manusia

“Kullukum ra’in, wa kullukum masuulun ‘an ra’iiyatihi” Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggung-jawabannya atas kepemimpinannya. Kehadiran seseorang bertujuan dan berkepentingan. Diwajibkan baginya menyembah Dzat yang Maha Esa. Kemutlakhan seorang sebagaimana makhluk untuk menyembah-Nya. Tidak untuk menambah kemulian Dzatnya. Namun, kebutuhan pribadi masing-masing makhluk—khususnya manusia—akan keselamatan dirinya: di dunia lebih-lebih di akhirat. […]

Persaingan Kelembagaan

“al ulama’ waratsatul anbiya’” Mengapa harus ada persaingan di dalam pendidikan? Bagi sebagian berambisi ingin meningkatkan kuantitas kelembagaannya: siswanya, gurunya dan gedung-gedung. Sebagian yang lain, berusaha meningkatkan kualitas di dalamnya. Sisanya, perpaduan di antara keduanya. Ada satu kesamaan dari mereka semua, “semuanya ingin sama-sama menjadi yang “terdepan dan terbaik”. Biasanya juga, mereka tak suka jika […]