dalam Catatan Kecil, Refleksi

Harga Kenikmatan

Tak tanggung-tanggung, seseorang berani membayar demi sebuah kenikmatan: kelezatan, ketenangan, kenyamanan, keteraturan, keserasian, dan keindahan. Semua kenikmatan tersebut seolah melekat dalam tubuh ‘bendawi’.

Mobil mahal dan murah, hakekatnya sama-sama dapat mengantarkan kepada tujuan. Hape mahal dan murah, hakekatnya sama-sama sebagai alat komunikasi. Seseorang berani membayar lebih untuk sebuah kenyamanan yang terkadang ‘memang’ tak dibutuhkan. Why?

Baru saja saya makan bakso. Baksonya memang berbeda dan nyaman dengan harga yang juga lebih mahal. Padahal intinya sama, bisa mengisi perut dan tidak menimbulkan penyakit. Sehingga, saya dapat beribadah dengan baik.

Jadi, untuk uang kita harus pikir pikir untuk apa dihabiskan. Apakah untuk yang “intinya” atau untuk yang “tambahan kenyamanan”. Selain itu, harga kenikmatan juga tak dengan “uang”. Tetapi kadang kita perlu membayarnya dengan “waktu”.

Waktu sejatinya lebih mahal daripada uang. Jadi, untuk apa menghabiskan banyak waktu untuk suatu “kenyamanan”: Hiburan, tayangan ga berfaedah, ataupun yang mencuri waktu kita. Lebih baik, waktu digunakan untuk hal yang bermanfaat dan berguna.

Kesalahan

Sekarang ini khususnya jaman now, kian merebak “Kambing Hitam”. Dalam diskusi-diskusi, pemecahan masalah terlalu banyak yang disudutkan, bahkan dikambinghitamkan. Pihak ini mengatakan, “…. Kan sudah ada buktinya, jadi sudah jelas dialah orangnya”. Dalam kasus yang lebih sederhana, begitu mudahnya menemukan kesalahan orang lain dibanding kebenarannya. “Kamu ini, sentoloyo”, “makanya, mikir dong … Mikir …”, “Otakmu […]