Bencana: Protes atau Berkabung

Penulis membuka tulisan bencana letusan krakatau, menggambarkan gejala-gajala awal hingga dampak bagi masyarakat dalam arti yang sebenarnya. Simon Sichester dan Edvard Much menjadi tokoh pijakan untuk mendapatkan gambaran terkait letupan krakatau.

Simon Sinchester dengan bukunya yang berjudul “Krakatao” terbitan tahun 1883. dan Edvard Much lukisan “teriakan” menggambarkan bagaimana dahsyatnya krakatau di langit Norwegia. Sebuah pemikiran yang apik untuk meyakinkan pembaca dari tepisan subjektivitas.

Meski tidak ada “ungkapan tokoh” pada awal pembuka, namun tulisan mampu membongkar kekakuan intelektualitas berpadu kreativitas. Dengan kemampuan penulis menjejerkan fakta dalam deskripsi apik.

Demi mempertahankan perspektif historis, menghadirkan bagaimana realita yang mendekati sesungguhnya. Penulis kemudian menambah pendapat tokoh lain, yaitu Muhammad Shaleh, seorang penyair lampung yang telah menuliskan rekaman dahsyatnya bencana tersebut dalam bentuk syair sepanjang 345 syair. Syair tersebut kemudian diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh John. McGlynn dengan judul Krakatao: The Tale of Lampung Submerged.

kali ini, penulis memuji penyair dengan agak ‘ragu’. Katanya, “muhammad shaleh agaknya reporter pertama dalam sejarah Indonesia yang melaporkan itu secara faktual.” Di samping itu, penulis tidak lupa memberikan ‘catatan masukan’ agar syair-syair yang berjumlah 345 harus dibatasi kata-katanya. Agar menjadi lebih leluasa, sebagaimana dibandingkan oleh penulis dengan tokoh Abdullah bin Abdulkadir almunshi.

Pada sisa-sisa akhir artikel, barulah penulis banyak memberikan opini berdasar. Uniknya, ia memberikan pandangan pembaca secara blur, berimbang. Antara setuju atau tidak mendukung. Mengiyakan atau menolak. Keputusan diserahkan kepada pembaca. Penulis menyuguhkan pilihan-pilihan bagaimana berefleksi terhadap bencana, mencatat bencana, dan menjadi saksi sejarah bencana. Syair Muhammad Shaleh menurutnya adalah sebuah gambaran ‘monotoni’, datar-datar, kurang lebih tidak menggigit.

Penulis memang sedikit menyentil persoalan keyakinan. Padahal, berbicara keyakinan tak lebih berbicara hal yang “sensitif”. sekali lagi, penulis mampu meredam itu semua sebagaimana apa yang ia tuliskan.

Tapi pada dasarnya: sebuah harmoni. Muhammad Saleh, sebagai seorang muslim zaman itu, tak ingin menggugat nasib yang menimpa orang banyak yang tak bersalah tapi seakanakan menerima laknat itu.

Kesimpulan mengerucut pada sikap penulis bahwa bencana dapat membuat kita protes atau berkabung.


Catatan ini merupakan bentuk usaha intelektualitas mencabut pori-pori suatu tulisan, merefleksikan dan mengkontruksi kembali pemikiran agar lebih mudah dipahami oleh pembaca secara lebih umum. Sekaligus sebagai usaha pembelajaran yang tidak mengerucut kepada usaha komersial, namun sekali lagi sebagai usaha pembelajaran.

Merupakan Refleksi-konstruktif | Didasarkan dari Judul Artikel “Bencana” | Buku: Catatan Pinggir 12” hlm. 7-10. | Oleh: Gunawan Mohamad” | Penerbit: Tempo Publishing

375 Kata

Pemuda Pinggiran Jalan

Kali ini kisah dari pelosok desa.

Seorang tokoh berjalan melewati seorang pemuda tepat di pintu gerbang masuk dusun suatu desa. Sebungkus rokok, duduk jongkok dan plastik kresek menemani pemuda itu. Duduk memandang bulan, asap rokok mengebul tak beraturan. Sorot lampu jalan yang terang memastikan bahwa ia seorang diri. Entah kemana pergi temannya. Jelas tak mungkin ia seorang diri. Bisakah ia betah berlama-lama seorang diri di pinggiran jalan?

Dan di tempat itu, tokoh agama tersebut sadar ini diluar kebiasaan. Kebiasaan di  desa yang dikenal agamis, pemegang nilai-nilai ajaran agama yang kokoh seakan runtuh oleh pemuda tersebut. “Pemuda sekarang semakin rusak”, pikir tokoh tersebut. Ia lewati pemuda dengan getir, takut adzab Allah akan menimpa seluruh desa.

Satu dasawarsa lampau, musholla-musholla masih ramai dengan anak-anak belajar mengaji. Masjid masih ramai oleh jamaah, madrasah-madrasah selalu menjadi pilihan tepat. Warung-warung di bulan Ramadhan tutup ketika saat puasa. “Sekarang berbeda”. rumah tak lagi menjadikan pemuda betah di dalamnya, apalagi masjid. Sekolah bukan lagi kebutuhan. Mereka lebih senang “me time” dengan dalih kebebasan. Semboyan yang mereka ungkapkan, “Hidupmu ya hidupmu, hidupku ya hidupku. Gak perlu kau urus aku, urus saja urusanmu.”

Adakah yang bisa tenang mendengar ungkapan di atas? Tenang-tenang saja, anaknya dengan temannya di pinggiran jalan. Tenang-tenang saja, saat anaknya bolos sekolah dan enggan membantu orang tua. Jikalah seperti itu, jelas sudah generasi yang akan datang adalah generasi yang semakin runtuh dan jauh dari harapan Rasulullah SAW.

Padahal, “Laisa minna man laa yahtammu biamril muslimin,” bukan termasuk golongan kami mereka yang tidak peduli (memperhatikan) urusan seorang muslim. Harus peduli, harus merasa memiliki demi mengelamatkan generasi masa depan demi kebahagiaan sejati. “Quu anfusakum wa ahlikumun naara”.

270 Kata

Kelalaian

Dalam perjalanan, seseorang perlu selalu bersikap awas dan berhati-hati. Ia tidak boleh lengah sedikitpun. Karena hal itu akan menyebabkan kefatalan, nyawa bisa menjadi taruhannya. Itulah analogi yang pas bagaimana sikap awas yang merupakan kebalikan dari lalai digambarkan. Dalam urusan berkendara, awas menjadi hal urgen. Apalagi di dalam urusan beragama di dalam kehidupan ini. Hidup di dunia kurang lebih demikian, bahkan ada yang mengatakan seperti menyeberang di jalan. Kita harus terus bersikap awas dan tidak boleh lengah.

Kelalaian kepada Allah SWT jauh lebih berbahaya dibanding kelalaian kita saat berkendara. Bila saja, kita kehilangan harta, harta masih bisa dicari dan diusahakan. Tetapi di akhirat kelak, yang semuanya tergantung kehidupan kita di dunia, saat kita benar-benar kehilangan Allah, maka apalah arti kita semua. Seterusnya, tidak lalai berarti mawas diri. Sikap sadar diri berarti senantiasa berdzikir dan ingat kepada AllahSWT. Allah akan memberi petunjuk kita, menjadi sopir bagi kehidupan kita yang akan memberikan petunjuk berkehidupan. Saat masalah datang, Allah pasti akan memberikan solusinya. Saat kita senang, maka Allah juga mengingatkan kita agar jangan lupa bersyukur.

Hidup jauh lebih indah bila semuanya disandarkan dalam kesadaran yang kaffah akan kekuasaan Allah atas diri kita. Ia yang maha kuasa tak pernah membiarkan kita, ia selalu memperhatikan setiap langkah dan gerik, nyata atau tersamarkan, sekarang dan yang akan datang. Semuanya Allah menyaksikan dan memperhatikan. Saat kita benar ingat kepadaNya, maka akan memberikan pancarah nur ilahiyah, membimbing kita.

Namun terkadang, kondisi kita jauh dari keadaan ideal tersebut. Kita terombang ambing dalam keadaan yang tidak jelas. Disibukkan oleh urusan yang tak penting, bahkan tak ada sangkut pautnya dengan “urusan agama”. laisa minna man laa yahtamma biamril mukminin. Di dalam urusan agama ada nilai ukhuwah islam, sehingga cinta dan kasih sayang mendapatkan porsi istimewa dalam beragama. “bukanlah golongan kami mereka yang tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak menyayangi kepada yang lebih muda”.

Kelalaian kita akan Sang Pencipta, Rabbal ‘Alamin menjadikan diri menjadi semakin tamak, takabbur dan sombong. Tidak memperdulikan urusan orang lain. Teman dianggap musuh, tetangga dibenci, orang miskin dijauhi. Seolah kita harus hidup dengan urusan kita sendiri, disibukkan untuk kepentingan pribadi saja.

Dalam kitab “Iqadul Himami”, syarh kitab al-hikam disebutkan, beberapa penyebab dari kelalaian seseorang. Yang pertama yaitu “kecintaan terhadap dunia”. seseorang tidak bisa dikatakan cinta jika ia memiliki harta. Tetapi cinta lebih dari sekedar itu, sebagaimana kasmarannya orang yang sedang jatuh cinta. Akalnya mati, emosinya aktif. Tak peduli najis, ia anggap suci. Cinta membutakan, ia tidak sadar akan sebuah kebenaran.

Cinta dunia pun demikian. Ia menjadi manusia yang tak peduli kepada apapun, kecuali “hanya soal dunia”. ia tak lagi melihat manakah tetangganya yang kelaparan di tengah malam, ia tak peduli hubungan kekeluargaan gegara urusan tanah warisan. Dan banyak contoh yang tak mungkin bisa disebutkan. Namun kepastiannya, cinta dunia membutakan dari segalanya. Bahkan menjadi penghalang antara dia dengan rabbnya. Ia tidak pantas menerima pancaran cahaya ilahi hingga ia berani berubah dan membuka hijab penghalang tersebut.

Kedua, yaitu merasa cukup puas hanya pada dhohir syariat. Ia merasa amal ibadahnya telah diterima karena merasakan manisnya dzikir, indahnya shalat di penghujung akhir malam. Ketentramannya justru menjadikannya tidak ingat “siapa yang memberikan assakinah” di dalam dirinya. Ia merasa menjadi makhluk Allah pilihan karena diberikan fadhol khoriqul ‘adah. Padahal, bisa jadi itu merupakan istidraj bagi dirinya. Allah sedang mengujinya dengan pemberianNya.

Mudahnya, kadang orang kalau sudah diberi nikmat menjadi terlalu terlena dan akhirnya mengarahkan dirinya lupa kepada pemberi nikmat. Jangan-jangan bila diberi surga ia lupa siapa yang menciptakan surga. Maka sebenarnya, tidak ada yang perlu dikejar di dunia ini. Kita seharusnya mengejar Allah SWT, Dzat pencipta dan pemilik alam semesta ini. Memberikan tanpa mengharap balas. Dzat yang paling maha sempurna mengasihi kita. Seseorang yang mencintai kita hingga mati-matian, maka Allahlah yang mencitai kita lebih dari apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Ketiga, keterikatan kita pada hukum sebab-musabab. Kita terlalu memastikan, seolah menghalau hak kekuasaan Allah akan alam ini. Misalnya, api itu sebab, dan menyebabkan panas. Keyakinan “kepastian” api membawa panas memberi dampak bahwa kita sudah memasuki wilayah kekuasaan Allah. Hal ini menyebabkan kita lalai. Padahal, ada api yang tidak menyebabkan panas seperti api yang membakar nabi Ibrahim. Begitupun dengan semua hal yang sering menjadi kebiasaan di dunia ini.

Contoh lain misalnya rejeki, rejeki merupakan musabab, sebabnya adalah kasab (usaha). maka kalau menggunakan alur pikiran ini, kalau tidak berusaha, maka tidak bisa makan besok. Sehingga ia lupa, makan besok itu bukan urusannya, itu urusan Allah SWT. Kelancangan inilah yang menjadikan kita lalai dan lengah, sehingga kita jauh dari allah. Akibatnya, kita menjadi manusia yang tak pantas disebut manusia, lebih-lebih sebagai hamba Allah. Seolah menjadi manusia yang paling buas. Kelalain mengakibatkan kita terlempar dari status dan diri kita yang seutuhnya. Tidak ingat siapa diri kita, apa kewajiban kita. Sehingga, muncullah manusia yang egoisme, seenaknya sendiri menurut alur pikiran kepentingannya. Pemimpin yang berperilaku bukan pemimpin. Rakyat yang bersikap bukan sebagai rakyat, justru ingin mengatur juga seperti pemimpin. Kan repot.

801 Kata

Welcome

Selamat datang di www.gusmakruf.com. Ini adalah pos pertama Anda. Sunting atau hapus, kemudian mulai menulis!

17 Kata