dalam Refleksi

Perbedaan

“perbedaan itu rahmat, jangan jadikan adzab dengan tidak mensyukurinya”

Setiap sesuatunya memiliki perbedaan: karakter seseorang, latar belakang budaya, hingga perbedaan isi kepalanya. Ada banyak faktor perbedaan perilaku seseorang. Salah-satu faktornya bisa dilihat dari yang tersebut di atas. Untungnya, kita perlu belajar memahami keanekaragaman diri seseorang untuk dapat memperlakukannya.

Bila kita secara tak sengaja bertemu dengan seseorang yang suka mengumpat jangan samakan dengan yang lain. Bisa jadi justru kitalah yang akan dikenai umpatannya. Seorang pemarah, tak bisa menyelesaikan permasalahan dengannya melalui kemarahan juga. Kita perlu menenangkannya sebelum mengambil sebuah keputusan.

Bagi seorang yang orientasinya ekonomi, uang dan materi, kita perlu sedikit memberi “pelicin” agar urusan tidak penting. Terhadap seorang berpendidikan, kita usahakan agar selalu logis dalam berteman. Termasuk dengan seorang bijaksana, kita harus mampu bersikap demikian. Tapi ingat, kita jangan sampai kehilangan prinsip kesejatian diri sendiri.

Meskipun beda orang beda gaya, di sisi lain kita jangan terbawa oleh arus mereka. Di sinilah kita bisa mewarnai dengan keramahan sikap dan kesaling-mengertian. Tetaplah hidup bersama mereka tanpa me-mereka-kan diri kita, seperti ikan di lautan tanpa ikut ikutan menjadi asin.

Karena sudah jelas perbedaan seseorang, maka kita harus siap menerima segala bentuk perlakuan mereka. Tak perlu lagi umpatan dibalas umpatan, hardikan dengan hardikan dan kemarahan dengan kemarahan. “Tit for tat” (al-syarru bisy-syarri) yang berarti “keburukan dibalas keburukan” bukanlah penyelesaian yang baik akan masalah.