Pemuda Medsos dan Kartun Nabi

Emmanuel Macron (Presiden Prancis) bukan tidak sadar diri, bahwa penerbitan kartun nabi dapat melukai perasaan umat Islam dunia. Ia sadar betul dampak dari pembelaannya terhadap usaha kebebasan berekspresi: menulis dan menggambar di negaranya. Ungkapnya, “Saya menyadari ini (kartun) bisa menimbulkan kemarahan umat Islam, dan saya menghormatinya. Tetapi, kita harus membicarakannya.”

Seorang pemuda duduk di bawah pohon pisang, bersandar santai pada tembok belakang bangunan itu. Sesekali ia seruput kopi hitam di hadapannya, sebungkus rokok pun tak tertinggal melengkapinya. Sebuah sinyal menjadi alasan kehadirannya di kegelapan malam. Tak peduli baunya limbah rumah tangga di selokan di dekatnya. Ganasnya gigitan nyamuk pun tak digubrisnya. Yang penting sinyal full oke. Jadilah pekarangan belakang Balai Desa kami tempat favorit tongkrongan anak muda semisalnya. Juga oleh pemburu sinyal-sinyal ‘gratis’, meski itu tegalan ndeso.

“Santai bang, saya begini juga tidak apa-apa bang. Itu kan sinyal balai desa, uang yang dibayar untuk tagihannya juga uang rakyat, jadi harus kembali ke rakyat, saya gak mencuri sinyal, cuma untuk meluruskan agar sinyal beradil dan beradab bagi semua kalangan. Hatta pemuda seperti kami ini”, ujar mereka dengan nada membela diri.

Di hari yang sama, seorang guru asal Chechnya dipenggal kepalanya. Samuel Pety menjadi korban pemuda berumur 18 tahun. Kejadian itu buntut dari perilakunya yang memperlihatkan–katanya–kartun nabi Muhammad. Kegaduhanpun terjadi di hari-hari kemudian dan melibatkan negara. Emmanuel Macron ikut unjuk suara. Berita mencuat oleh media-media, bahkan diberitakan pula oleh media nasional negara kita.

Sementara itu, Bang Jago tongkrongan tadi masih tetap saja sibuk dengan gamenya, tak lupa pula dengan media sosialnya. Scroll display medsos demi display, cek notifikasi, membalas notifikasi. Ia duduk seperti biasanya, layar handphone sejajar dengan wajahnya. Kedua tangannya sibuk menyelaraskan button-button pada game. ia lupa, bahwa ia seorang muslim yang wajib menjaga kemulian nabinya.

Ujarnya lagi, “Bohong bang, penghinaan itu bohong bang, wong ga ada di dunia ini yang tahu betul sosok nabi kita, apalagi yang karikatur itu. Jelas itu bohong, sok tahu. Ngapain baper? Kalau baper berarti kita merasa kartun nabi itu adalah mirip sosok nabi” ia pun melanjutkan game onlinenya. Padahal sudah jelas, khitob kartun itu adalah baginda nabi.

Pemuda misal Bang Jago perlu diacungi jempol soal pendiriannya. Sayangnya, ia tak mendapatkan informasi secara detail. Ia memahami kepingan berita itu. Terlepas apakah ia benar atau salah, namun yang pasti ia memiliki “kepekaan” akan keadaan dan “tegas bersikap” meski kadarnya seperti demikian. Ia tak sungkan mengatakan hitam saja, atau putih saja. Ia blak-blakan apa adanya, tidak abu-abu. Pemuda sekarang adalah masa depan negara, juga masa depan bagi agama.

Agama perlu dibela, dibudayakan sehingga terus mewarnai bagi kehidupan manusia selanjutnya. Pemuda yang “peka” dan “tegas” perlu dibina untuk mengembangkan sikap tersebut dengan tetap toleran. Perlu penanggalan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu dan merusak potensi pemuda: waktu kosong dan hal-hal yang tak penting. Laisa minna man lam yahtamma bi amril muslimin.

Kita perlu melebur dalam minat mereka untuk mengajak mereka sadar status sebagai seorang yang beragama islam. Sehingga, Islam sebagai pondasi berkehidupan menjadi pilihan tepat dalam menjalankan kehidupan dewasanya kelak.

Meski begitu, pemuda harus tetap terbuka kepada dunia. Ia tak boleh menolak teknologi. Karena bila teknologi telah dikuasi mereka pembenci islam, lalu kita bisa apa sekarang? Percuma koar-koar di jalanan–tak ada yang peduli. Koar-koar cerdas di media sosial, rakyat sedunia bisa mendengarkan. Mindset mereka bisa dipengaruhi untuk tujuan penegakan agama.

Tak mudah memang, memilih informasi enam kali lebih cepat dibanding dengan beberapa tahun silam. Semakin cepat informasi datang, semakin bingung menentukan di manakah informasi yang benar informasi, yang manakah informasi yang terpenting dan bermanfaat bagi kita. Tak semua tulisan perlu dibaca, tak semua gambar perlu dilihat. Kembali, bagaimana kita berniat dan menyelaraskan usaha sesuai niat kita.

Titik Nol

Ada saat-saat di mana puncak segala sesuatu adalah titik terdalam. Kenyataannya tinggi, namun sebenarnya adalah kerendahan. Seperti Iblis, mengira dirinya paling tinggi dan paling baik, namun rupanya saat itulah ia merupakan makhluk paling rendah di hadapan Allah SWT. Apa sebab, karena ia sombong dengan kedudukan dirinya, merendahkan makhluk yang Allah swt muliakan.

Di sisi lain, ada seseorang yang secara nyata dan sesuai anggapan umum masyarakatnya telah dianggap sebagai pemabuk. Hanya gara-gara pergi ke warung tempat di mana minuman keras itu didapatkan. Menurut cerita, saat seseorang tersebut meninggal dunia, tak satupun masyarakat sudi mengurusi jenazahnya hingga pemakaman. Tapi rupa-rupanya, dia adalah waliyullah yang tidak menampakkan derajatnya. Ia membeli tidak untuk diminum, ternyata di bawa ke rumah lalu kemudian dibuang begitu saja.

Terdapat dua titik yang saling bergantung dan berkebalikan. Tercipta di dunia ini yang berpasang-pasangan memberikan kerangka berpikir, bahwa kondisi dan situasi tetap harus diyakini sebagai ketentuan Allah SWT. Hal yang jaiz, bila saja Allah menyiksa seorang yang sholeh dan tak pernah berbuat dosa sedikitpun. Dan hal yang jaiz pula, bila saja Allah SWT memasukkan hambanya yang penuh dosa ke dalam surga. Namun bukan kemudian terlalu dini disimpulkan, kalau begitu apa guna beramal kebaikan?

Di sinilah iman kita diuji. Apakah amal kebaikan yang dilakukan itu semata-mata untuk Allah, atau untuk surga Allah? Apakah kau menghindari amal keburukan karena takut neraka atau karena takut kepada Allah? Amal dari sumber keduanya secara konkret tampak nyata, sehingga seseorang menjadi taat. Tetapi, rupanya kedua berbeda jauh antara ikhlas dan syirik khofi. Maka, janganlah berputus asa, dan berkecil harapan bahwa seolah semuanya telah terlambat, bahwa diri yang terlalu berdosa tak akan diterima oleh Allah. Bila kau terus dalam kesedihan, kebingungan oleh dosa-dosa yang diperbuat, maka yakinlah Allah mengajakmu untuk bertaubat.

Risiliensi

Andaikan ada dua orang yang memiliki kemampuan sama, kemampuan untuk bertahan (resiliensi) menjadi pembedanya. Karena setiap perjuangan pasti akan menghadapi “rintangan”, maka di situlah dibutuhkan perjuangan dan istiqomah agar dapat menghadapinya.

Siang itu saya tak sengaja melihat tayangan perlombaan robot mahasiswa suatu negara di luar sana. Mereka diuji kemampuan bagaimana merancang robot menjadi berkualitas dalam “batasan waktu tertentu”. Setelah deadline usai, tak semua peserta dapat menyelesaikan proyeknya. Hal ini menjadi penilaian tersendiri, di mana waktu juga menjadi hal yang tak boleh dikesampingkan.

Di akhir lomba, ternyata juri mengatakan bahwa perlombaan itu tidak hanya mengukur bagaimana kemampuan siswa, tetapi ada hal lain. Mereka diukur kemampuan resiliensinya, kemampuan mengatasi masalah dalam team, dan “bekerja dengan deadline”. Barulah di sini diketahui, “pekerjaan baik itu adalah pekerjaan yang selesai.”

Banyak yang bermimpi, tapi sedikit yang mau mengambil langkah pertama—mengawali atau memulai. Sebagian mereka yang telah mengawali, banyak yang tak meneruskannya. Gugur oleh waktu, di pertangahan perjalanan mereka. Seseorang dengan kemampuan resiliensi yang baik, tentu ia akan terus bertahan.

Sedikit realistis, seseorang bukanlah mesin. Ia tentu dilengkapi dengan perasaan (mood) yang mempengaruhi bagaimana kemapuan resiliensinya. Sebagain ada yang terkalahkan oleh perasaannya sendiri, ada yang dikalahkan pikirannya sendiri. Ia pun akhirnya menjadi berat melakoni (meneruskan) apa yang telah diputuskan dan dimulianya.

Di masa sekarang, godaan datang dari penjuru empat arah. Mau menulis saja bisa menjadi berat, karena terlalu dipikirkan. Bila saja ia membuka laptop tanpa banyak berpikir, barangkali tulisannya pasti sudah beberapa paragraf. Itu salah satu contoh, resiliensi dibutuhkan dalam perjuangan apapun untuk mencapai cita-cita.

Bersatu dengan Ruang dan Waktu

Kepli saat itu sering ditanya oleh temannya, “pli, kapan kamu nikah?” Ia termenung, diam tanpa bersuara. Pamannya pun berusaha untuk menanyainya kembali, “pli, kamu nikahnya kapan?” Kipli diam, kemudian pergi. Ia mungkin termasuk sembilan dari sepuluh laki-laki Indonesia yang saat tiba lebaran selalu ditanya kapan “nikah”.

Fragmen kecil realita ini bisa ditemui di sekitar kita. Seorang yang terkondisikan agar dia memasuki dan hidup “di masa depan.” Sejak masih pendidikan sekolah dasar, selalu ada yang bertanya, “nanti kamu smp di mana?” Saat hampir lulus kuliah, “nanti kerja di mana?” Untung, saat umur memasuki 62 tahun, “nanti mau ke mana: surga apa neraka?”

Keberadaan manusia tidak dapat dilepaskan dari ruang dan waktu. Khayalan menjadikannya ia terbang seolah menembus waktu, meskipun sebenarnya itu hanya “di benak”: belum benar-benar menjadi nyata. Saat di kantor, rumahnya dipikirkannya. Ketika di rumah, urusan kantor selalu dipikirkan. Sedihnya, hal demikian bisa berujung kepada kecemasan akut. Terciptanya oleh khayalan dengan sedikit bumbu perasaan.

Walhasil, semua dipikirkannya dari zaman dahulu, hingga zaman yang akan datang. Tak lupa, yang di sini hingga yang di sana. Pikirannya semakin ruwet tak karuan. Di saat kerja, ingat makan, saat makan ingat kerja. Repotlah. Tak bahagialah dia. Ia tak mau menempati ruang dan waktu yang harus “ditempati” di waktu “sekarang” dan “di sini.”

Bukan berarti seseorang tak boleh melirik masa depan dan menoleh ke masa lalu. Ia tetap butuh akan masa lalunya, dan masa depannya. Sekedarnya saja untuk dapat menata “akan masa depannya” dan berkaca akan masa lalunya. Selebihnya, ia tetap harus lebih “mencurahkan segenap perhatian” pada apa yang ada sekarang dan di tempat ini—di mana ia berada.Si Kepli akhirnya bahagia, tersenyum lebar. Bukan karena ia tak dipaksa lagi memasuki masa depan dengan pertanyaan “kapan menikah?” Melainkan, ia telah di masa depan dengan istri mudanya. “si paman sih, tanya-tanya nikah.” Paman Kipli salah paham, kipli disangkanya tak beristri. Ternyata bisik-bisik waktu itu ingin nambah.