dalam Uncategorized

Alhikmah Van Den Bosch

Saya pergi ke Benteng Pendem Van Den Bosch. Benteng megah seluas 15 Hektar itu dibangun pada 1839-1845. Letaknya tak jauh dari pusat Kabupaten Ngawi. Perjalanan kali ini tak membuat saya dimanjakan oleh pemandangan bangunan, tetapi pikiran dan hati saya benar-benar digugah sedemikian kuat. Sehingga, beberapa hari setelahnya kami terus berpikir akan tempat tersebut.

Kekosongan Kekuasaan
Bangunan tersebut dibangun oleh Belanda dengan memperkerjakan masyarakat sekitar. Keberadaan benteng didasarkan pada letak strategis Kab. Ngawi sebagai basis pertahanan pasukan Belanda. Saya berpikir, bangunan sebesar ini tentu adalah terbesar pada eranya. Kebesaran dan kekuatan penjajah Belanda akhirnya hengkang dan kalah hanya oleh “kosongnya kekuasaan penjajahan”.

Kata kuncinya: “Kekosongan”. Kata itu bisa dipahami sebagai “kesempatan” dan “ancaman”. Bagi sebagian individu, kosong itu bisa berarti kesempatan. Sehingga, ia menggunakannya sebaik mungkin. Kedua, kosong itu berarti ancaman, sehingga, siapapun akan berhati-hati untuk menjaga darinya. Celakanya, orang jenis ketiga. Ia acuh tak acuh terhadap waktu kosong: ia gunakan waktu kosongnya untuk hal tak bermanfaat. Allah berfirman di dalam al-Qur’an:

فإذا فرغت فانصب والى ربك فارغب

Dalam surat al-‘asr disebutkan:

والعصر، ان الإنسان لفى خسر الا الذين امنوا وعملوا الصالحات وتواصو بالحق وتواصو بالصبر

Dan Rasulallah SAW bersabda:

من حسن اسلام المرء تركه مالا يعنيه

Hikmahnya, sebagai manusia ia diberi keterbatasan. Di mana, ia hidup dalam ruang dan waktu. Maka, kematian merupakan suatu kepastian baginya. Kelak, ia diminta pertanggungjawaban akan masa hidupnya ketika di dunia. Oleh sebab itu, dalam rangka menjadi hamba Allah yang baik, penggunaan waktu sangatlah “perlu diperhatikan” sebaik mungkin.

Perang dan Perlawanan
Peperangan terjadi oleh pemenuhan hasrat kekuasaan dan keinginan. Indonesia dengan kekayaan alamnya menjadi rebutan bangsa-bangsa lain pada masanya. Penjajah berpikir, “bagaimanapun caranya, yang penting saya dapat menguasai semua ini”. Tujuan itulah yang mampu menguatkan bala tentara penjajah untuk berkorban, bahkan nyawa sekalipun. Caranya, dengan kekerasan dan perang.

Bila individu tak memiliki keinginan, itulah sebabnya mengapa orang lain menjajahnya; memanfaatkannya. Bahkan, mereka yang berkeinginan namun malu berjuang. Saat ini, praktek penjajahan tetaplah ada, meski bentuk dan caranya berbeda. Prinsip penjajahan: “Tujuan yang tercapai dengan cepat, dipaksakan dan kekerasan tak akan lebih awet dibandingkan dengan yang sebaliknya”.

Sekarang, adalah masa peperangan. Bukan dengan kekerasaan, namun dengan Akhlaqul Karimah. Menjajah bisa juga berarti “mempengaruhi”. Kekerasan bukanlah suatu pilihan. Lalu apa yang dilawan, diperangi dan dijajah? Tidak lain adalah “diri sendiri”.

رجعنا من جهاد الاصغر الى جهاد الاكبر وهي جهاد النفس

Musuh terbesar adalah diri sendiri, bukan orang lain, bukan bangsa lain apalagi negara lain. Tentu, itulah musuh yang lebih sulit dihadapi dibandingkan para perompak ataupun sejenisnya. Pengaturan strategi perlawanan terhadap diri sendiri perlu diatur dan dikaji ulang. Yaitu, melawan terhadap nafsu diri sendiri yang menyeru kepada kebathilan (nafsu ammaratu bissu’).

Manajemen waktu dan perlawanan terhadap diri sendiri menjadi kunci kebahagiaan di dunia lebih-lebih di akhirat.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar