dalam Menulis, Refleksi

Bendawi

“Makhluk tersusun oleh ruh dan jisim, ada sebagian yang tercipta dengan jisim tanpa ruh”

Apakah yang paling dicari dan diburu manusia saat ini? Ada beberapa dugaan untuk itu. Mereka mencari demi kepentingan dirinya: memperoleh kedudukan, harta dan kenyamanan. Sebab kedudukan, mereka peroleh penghormatan dan penghargaan. Dengan harta, mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Dan sebenarnya, mereka mencari kenyamanan hidup di dunia ini.

Saya kira, di masa modern ini hanya manusia bodoh saja yang mengejar kehinaan, mengejar kemiskinan dan tidak berambisi terhadap kedudukan serta penghargaan. Nyaris kesemuanya ingin menjadi terdepan, terhormat, dan terbaik menurut versi pikiran mereka sendiri.

Dikatakanlah sukses: bila kerjanya menghasilkan banyak rupiah,  jabatan penting, sekolah tinggi, tempat tinggal mentereng hatta memiliki “pengaruh” di mana-mana. Mereka bekerja siang malam, meninggalkan keluarga di rumah dari pagi hingga petang, dalih penghematan demi menghindar membantu sesama. Atau kadang membantu, tetapi memang ada maunya.

Kita perlu belajar keluar dari diri kita sendiri untuk sejenak melihat dan merenungi diri kita. Apa yang sebenarnya kita kejar secara berlebihan tersebut? Bukankah kedudukan, harta dan kenyamanan itu hanyalah bendawi ciptaan-Nya. Semua bendawi di dunia sifat musnah,tidak kekal dan bisa saja hilang dalam sekejab.

Kita tak perlu gengsi untuk mengakui: kita semua memang membutuhkan itu semua. Kita hanya perlu menggeser tujuan segala apa yang diusahakan dari “bendawi” menuju “Ilahi”. Sehingga batin kita hanya Allah, selain Allah tak dapat mengambil posisi di dalam hati. Allah yang kekal, selain Allah tidak akan kekal dan akan sirna. Termasuk kedudukan, harta dan kenyamanan.

Dikatakan bahwa cinta dunia merupakan penyebab segala macam kesalahan manusia. Cintanya itu biang keladinya. Artinya, benci dunia adalah penyebab kebaikan seseorang. Membenci berarti tidak terlalu memedulikan dunia, tidak terlalu memikirkannya kecuali atas bimbingan Allah Swt demi kepentingan Allah.

Cinta itu letakkanya di hati. Hadirnya cinta terhadap dunia—segala macam keberadaan bendawi—oleh sebab pupusnya cinta ilahi dalam hati. Hati terjajah oleh dunia yang fana. Hati kita seolah menjadi buta bahwa Ilahi adalah paling indah, paling banyak memberikan kenyamanan, menjamin kehidupan, menepati setiap berjanji.

Kita perlu belajar mengutuk dunia dengan cara yang baik, belajar membenci bukan karena mengaggap remeh. Karena setiap yang tercipta mengandung hikmah. Kita hanya perlu mensucikan hati kita dari dunia menuju ilahi, sedang jisim (raga) tetap berusaha memenuhi hasrat kebutuhan bendawi. Wallahu a’lam bisshawab…

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar