dalam Catatan Kecil, Menulis, Refleksi

Bermewah-mewah

Dikatakan dalam sebuah maqal, “Siapa yang berlebih-lebihan dengan sesuatu yang halal sekalipun, maka itu merupakan awal dari setiap keburukan. Apalagi dengan sesuatu yang haram”. Dengan pernyataan itu, Imam Al-Ghozali mengusik kaum hedonism dan kaum kapitalis, bahkan kepada mereka di zaman modern ini.

Sesama politikus bertengkar menyuarakan suara rakyat, memperebutkan proyek yang ‘katanya’ atas dan untuk rakyat. ‘Toh akhirnya, rumahnya juga semakin kinclong’. Ada yang juga saling menjatuhkan hanya karena sejengkal tanah warisan. Tak hanya itu, ada yang mengadu domba teman sekantornya dengan atasannya demi posisi yang diinginkan. Tukang ojek pun tak luput juga, mereka bahkan ada yang “saling perang” yang berakhir penganiayaan.

“Demi apa itu semua? Ya demi hidup”. “Ente kok masih bertanya”? saya yakin, mereka dengan segenap cara, bila memang diberi kemampuan pasti memiliki “keinginan” sesuatu yang lebih: uang lebih banyak, rumah lebih mewah, mobil lebih wah, tanah lebih luas, harta kekayaan lebih dari kebutuhan”. Tambah repot kan? Harta sebanyak itu siapa yang mau mengurus, dan akhirnya tak sempat “menikmatinya”. Lalu untuk apa?

Mobil, satu saja cukup untuk kebutuhan. Jejeran jenis mobil yang bermacam-macam, sesungguhnya mengurangi mobilitas bila memang tak diperlukan. Pakaian, milikilah secukupnya. Termasuk dengan rumah, tak perlu dengan bermewah-mewah, kursi seharga mobil first class, lampu seharga tanah dipinggir jalan raya kota besar. Lalu untuk apa?

Ada sebagian yang bahkan terlalu memaksakan untuk demi kata gengsi dan demi harga diri. “Apa kata orang mah, kalau papa nanti ga pakai baju ini? Malu mah…” Kata si Papa. Si Mama Juga, “Pah, malu tau mama kalau ga pake emas ini?” Contoh sederhana ini cukup menunjukkan berpakaian telah mengeluarkan sebagian orang dari hakekatnya, yaitu menutup aurat.
Di acara-acara besar: pernikahan, syukuran, atau semacamnya. Terkadang di situlah gengsi, harga diri, dan kondisi keuangan keluarga menjadi taruhan dan harus ada yang mengalah. Bolehlah acara “resepsi” pernikahan itu dirayakan dengan sekian ribu undangan, dengan jamuan yang “wah”, padahal ia memaksakan dengan kondisi keuangan yang tak sepadan. Akhirnya, kolaps. Ia menanggung banyak hutang. Bukan tambah bahagia, tetapi tambah “kepikiran” dengan banyaknya hutang-hutang tersebut.

Tapi ini kan kebiasaan masyarakat di sini? Telah menjadi budaya. Justru itulah, kebudayaan itu tercipta oleh kebiasaan yang menentramkan rakyatnya, membuat bahagia. Bila itu “memang” benar adanya dianggap sebagai budaya, mengapa terkesan memaksakan kehendak sehingga timbullah masalah yang lebih besar.

Memang tak ada yang bisa menyalahkan, bila sebagian orang disibukkan oleh “kemasannya” dibandingkan “isinya”, “Bajunya” dibandingkan kualitas asli dirinya, “Mobilnya” dibandingkan manfaat dan fungsinya, Harga Hapenya, dibandingkan kegunaannya. Maka pada urutannya, semua akhirnya lebih senang dengan hal-hal yang tak penting (pelengkap), yang sebenarnya tak diperlukan, dan mengabaikan apa yang benar-benar penting.

Bila Anda ingin bahagia, curahkanlah perhatian Anda kepada apa yang mendesak dan yang benar-benar penting. Mewah—meskipun mampu secara finansial—itu bukanlah hal yang penting, yang amat penting adalah “cukup”, saat butuh “ada”.

Maka akhirnya, siapapun yang terlalu bermewah-mewah akan kewalahan sendiri dengan mengurus kemewahan dan mengabaikan “fungsi” dan manfaat dari kemewahan tersebut. Dengan kata lain, “Membiasakan diri dengan hal yang sebenarnya tak penting beresiko pengabaian terhadap yang ‘penting’”.

Muhammad Ghozali Ma’ruf, M.Psi.
www.gusmakruf.com

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar