dalam Uncategorized

Bersatu dengan Ruang dan Waktu

Kepli saat itu sering ditanya oleh temannya, “pli, kapan kamu nikah?” Ia termenung, diam tanpa bersuara. Pamannya pun berusaha untuk menanyainya kembali, “pli, kamu nikahnya kapan?” Kipli diam, kemudian pergi. Ia mungkin termasuk sembilan dari sepuluh laki-laki Indonesia yang saat tiba lebaran selalu ditanya kapan “nikah”.

Fragmen kecil realita ini bisa ditemui di sekitar kita. Seorang yang terkondisikan agar dia memasuki dan hidup “di masa depan.” Sejak masih pendidikan sekolah dasar, selalu ada yang bertanya, “nanti kamu smp di mana?” Saat hampir lulus kuliah, “nanti kerja di mana?” Untung, saat umur memasuki 62 tahun, “nanti mau ke mana: surga apa neraka?”

Keberadaan manusia tidak dapat dilepaskan dari ruang dan waktu. Khayalan menjadikannya ia terbang seolah menembus waktu, meskipun sebenarnya itu hanya “di benak”: belum benar-benar menjadi nyata. Saat di kantor, rumahnya dipikirkannya. Ketika di rumah, urusan kantor selalu dipikirkan. Sedihnya, hal demikian bisa berujung kepada kecemasan akut. Terciptanya oleh khayalan dengan sedikit bumbu perasaan.

Walhasil, semua dipikirkannya dari zaman dahulu, hingga zaman yang akan datang. Tak lupa, yang di sini hingga yang di sana. Pikirannya semakin ruwet tak karuan. Di saat kerja, ingat makan, saat makan ingat kerja. Repotlah. Tak bahagialah dia. Ia tak mau menempati ruang dan waktu yang harus “ditempati” di waktu “sekarang” dan “di sini.”

Bukan berarti seseorang tak boleh melirik masa depan dan menoleh ke masa lalu. Ia tetap butuh akan masa lalunya, dan masa depannya. Sekedarnya saja untuk dapat menata “akan masa depannya” dan berkaca akan masa lalunya. Selebihnya, ia tetap harus lebih “mencurahkan segenap perhatian” pada apa yang ada sekarang dan di tempat ini—di mana ia berada.Si Kepli akhirnya bahagia, tersenyum lebar. Bukan karena ia tak dipaksa lagi memasuki masa depan dengan pertanyaan “kapan menikah?” Melainkan, ia telah di masa depan dengan istri mudanya. “si paman sih, tanya-tanya nikah.” Paman Kipli salah paham, kipli disangkanya tak beristri. Ternyata bisik-bisik waktu itu ingin nambah.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar