Titik Nol

Ada saat-saat di mana puncak segala sesuatu adalah titik terdalam. Kenyataannya tinggi, namun sebenarnya adalah kerendahan. Seperti Iblis, mengira dirinya paling tinggi dan paling baik, namun rupanya saat itulah ia merupakan makhluk paling rendah di hadapan Allah SWT. Apa sebab, karena ia sombong dengan kedudukan dirinya, merendahkan makhluk yang Allah swt muliakan.

Di sisi lain, ada seseorang yang secara nyata dan sesuai anggapan umum masyarakatnya telah dianggap sebagai pemabuk. Hanya gara-gara pergi ke warung tempat di mana minuman keras itu didapatkan. Menurut cerita, saat seseorang tersebut meninggal dunia, tak satupun masyarakat sudi mengurusi jenazahnya hingga pemakaman. Tapi rupa-rupanya, dia adalah waliyullah yang tidak menampakkan derajatnya. Ia membeli tidak untuk diminum, ternyata di bawa ke rumah lalu kemudian dibuang begitu saja.

Terdapat dua titik yang saling bergantung dan berkebalikan. Tercipta di dunia ini yang berpasang-pasangan memberikan kerangka berpikir, bahwa kondisi dan situasi tetap harus diyakini sebagai ketentuan Allah SWT. Hal yang jaiz, bila saja Allah menyiksa seorang yang sholeh dan tak pernah berbuat dosa sedikitpun. Dan hal yang jaiz pula, bila saja Allah SWT memasukkan hambanya yang penuh dosa ke dalam surga. Namun bukan kemudian terlalu dini disimpulkan, kalau begitu apa guna beramal kebaikan?

Di sinilah iman kita diuji. Apakah amal kebaikan yang dilakukan itu semata-mata untuk Allah, atau untuk surga Allah? Apakah kau menghindari amal keburukan karena takut neraka atau karena takut kepada Allah? Amal dari sumber keduanya secara konkret tampak nyata, sehingga seseorang menjadi taat. Tetapi, rupanya kedua berbeda jauh antara ikhlas dan syirik khofi. Maka, janganlah berputus asa, dan berkecil harapan bahwa seolah semuanya telah terlambat, bahwa diri yang terlalu berdosa tak akan diterima oleh Allah. Bila kau terus dalam kesedihan, kebingungan oleh dosa-dosa yang diperbuat, maka yakinlah Allah mengajakmu untuk bertaubat.

Menulis dan Kebermaknaan Hidup

Banyak orang yang menulis, namun tidak merasakah nikmatnya menulis. Termasuk diri saya sendiri. Saya belum bisa menikmati betul pengalaman flow di dalam menulis. Tenggelam dan larut menuliskan suatu yang ingin disampaikan. Lebih-lebih pada taraf merasakan kebermaknaan hidup dengan medium menulis.

Pertemuan saya dengan Syaikh Imam al-Ghazali melalui kitabnya, “Bidayah al-Hidayah” memberi pencerahan tersendiri. Bahwa menulis itu aktivitas seseorang yang mulia. Suatu kemulian tak diraih dengan jalan yang nyaman, santai dan penuh kemudahan. Justru di situlah, nilai lebih menulis karena tantangannya yang begitu berat.

Beliau juga menyatakan bahwa tulisan merupakan bagian dari lisan. Oleh sebab itu, apa yang tak pantas diucapkan oleh lisan seyogyanya tak pantas untuk dituliskan. Beliau yang telah hidup beberapa abad yang lalu, sebagai ilmuan, ulama dan penulis tersohor dengan ribuan kitab klasiknya benar-benar menyadari pentingnya meraih makna hidup dengan menulis dengan perjuangan yang berliku.

Kepenulisan bagi saya adalah dalam rangka meraih kemulian. Tidak hanya dengan menyampaikan pengetahuan yang dipahami, tetapi sebagai langkah strategis menata pengetahuan di dalam pikiran dan terintegral dengan pengetahuan lainnya. Di situlah hal baru didapatkan akibat perpaduan demi perpaduan. Selain itu, menulis sudah menjadi semacam media problem solving untuk menemukan suatu solusi. Sayangnya, hingga kini saya tak dapat menikmati dunia menulis sebagai sesuatu yang objektif, terlepas apakah saya merasakan manfaat menulis atau tidak.

Menulis itu memanglah pekerjaan mulia. Karena melalui perantara itu kita bisa belajar. Meskipun di sisi lain, tulisan bukanlah satu-satunya “yang bisa dibaca”. Karena membaca dalam pandangan Agama Islam tidak terbatas pada tulisan, namun bisa bermakna lebih luas. Islam mengajarkan banyak membaca dan juga sekaligus banyak menulis. Ulama terdahulu telah banyak membuktikannya.
Sebagai contoh, Ulama Nusantara yang karyanya telah dimanfaatkan oleh pelajar di Al-Azhar Cairo-Mesir. Yaitu Syeikh Dahlan Jampes dari Kediri Jawa Timur. Hingga sekarang kitab tersebut dipergunakan di universitas terkemuka tersebut.

Saya tak ingin menulis hanya sekedar merampungkan tulisan menjadi buku ataupun artikel tertentu tanpa ada ruh. Ruh yang menghidupkan tulisan sehingga menjadi bermanfaat dan berguna bagi orang lain.

Menulis merupakan aktivitas mulia dalam pandangan Islam, maka tak pantas bila ternyata yang dituliskannya adalah hal yang remeh-temeh, tak bermanfaat bahkan menimbulkan mudharat.
Menulis saja memang tak mudah, apalagi melahirkan tulisan-tulisan yang “bernyawa” sehingga hidup sekian abad lamanya seperti karya ulama terdahulu. Jelaslah, tak semudah menulis di media sosial, dan jelaslah ada “sesuatu” yang tak bisa dipahami oleh kebanyakan akan rahasia di balik itu semua.

Saya yakin, mereka para penulis kitab terdahulu tidak pernah bercita-cita untuk menjadi penulis terkenal apalagi ingin mendapatkan perhatian dunia. Ada alasan yang benar dan kaut dibalik mengapa mereka menulis.

Saya malu bila tak menulis. Saya juga malu bila tak memiliki buku karya sendiri. Bukan malu karena tak kunjung menjadi penulis best-seller. Saya takut, kalau tiba-tiba ajal keburu datang sedangkan diri saya belum bermanfaat bagi orang lain.

Oleh sebab itulah, komunitas kepenulisan menjadi penting untuk mendongkrak semangat diri yang telah terkubur dan pupus oleh pengaruh zaman. Berteman dan bergaul dengan calon penulis masa depan tak ubahnya menata masa depan.

#OneDayOnePost #ODOPBatch7 #KomunitasODOP

Bermewah-mewah

Dikatakan dalam sebuah maqal, “Siapa yang berlebih-lebihan dengan sesuatu yang halal sekalipun, maka itu merupakan awal dari setiap keburukan. Apalagi dengan sesuatu yang haram”. Dengan pernyataan itu, Imam Al-Ghozali mengusik kaum hedonism dan kaum kapitalis, bahkan kepada mereka di zaman modern ini.

Sesama politikus bertengkar menyuarakan suara rakyat, memperebutkan proyek yang ‘katanya’ atas dan untuk rakyat. ‘Toh akhirnya, rumahnya juga semakin kinclong’. Ada yang juga saling menjatuhkan hanya karena sejengkal tanah warisan. Tak hanya itu, ada yang mengadu domba teman sekantornya dengan atasannya demi posisi yang diinginkan. Tukang ojek pun tak luput juga, mereka bahkan ada yang “saling perang” yang berakhir penganiayaan.

“Demi apa itu semua? Ya demi hidup”. “Ente kok masih bertanya”? saya yakin, mereka dengan segenap cara, bila memang diberi kemampuan pasti memiliki “keinginan” sesuatu yang lebih: uang lebih banyak, rumah lebih mewah, mobil lebih wah, tanah lebih luas, harta kekayaan lebih dari kebutuhan”. Tambah repot kan? Harta sebanyak itu siapa yang mau mengurus, dan akhirnya tak sempat “menikmatinya”. Lalu untuk apa?

Mobil, satu saja cukup untuk kebutuhan. Jejeran jenis mobil yang bermacam-macam, sesungguhnya mengurangi mobilitas bila memang tak diperlukan. Pakaian, milikilah secukupnya. Termasuk dengan rumah, tak perlu dengan bermewah-mewah, kursi seharga mobil first class, lampu seharga tanah dipinggir jalan raya kota besar. Lalu untuk apa?

Ada sebagian yang bahkan terlalu memaksakan untuk demi kata gengsi dan demi harga diri. “Apa kata orang mah, kalau papa nanti ga pakai baju ini? Malu mah…” Kata si Papa. Si Mama Juga, “Pah, malu tau mama kalau ga pake emas ini?” Contoh sederhana ini cukup menunjukkan berpakaian telah mengeluarkan sebagian orang dari hakekatnya, yaitu menutup aurat.
Di acara-acara besar: pernikahan, syukuran, atau semacamnya. Terkadang di situlah gengsi, harga diri, dan kondisi keuangan keluarga menjadi taruhan dan harus ada yang mengalah. Bolehlah acara “resepsi” pernikahan itu dirayakan dengan sekian ribu undangan, dengan jamuan yang “wah”, padahal ia memaksakan dengan kondisi keuangan yang tak sepadan. Akhirnya, kolaps. Ia menanggung banyak hutang. Bukan tambah bahagia, tetapi tambah “kepikiran” dengan banyaknya hutang-hutang tersebut.

Tapi ini kan kebiasaan masyarakat di sini? Telah menjadi budaya. Justru itulah, kebudayaan itu tercipta oleh kebiasaan yang menentramkan rakyatnya, membuat bahagia. Bila itu “memang” benar adanya dianggap sebagai budaya, mengapa terkesan memaksakan kehendak sehingga timbullah masalah yang lebih besar.

Memang tak ada yang bisa menyalahkan, bila sebagian orang disibukkan oleh “kemasannya” dibandingkan “isinya”, “Bajunya” dibandingkan kualitas asli dirinya, “Mobilnya” dibandingkan manfaat dan fungsinya, Harga Hapenya, dibandingkan kegunaannya. Maka pada urutannya, semua akhirnya lebih senang dengan hal-hal yang tak penting (pelengkap), yang sebenarnya tak diperlukan, dan mengabaikan apa yang benar-benar penting.

Bila Anda ingin bahagia, curahkanlah perhatian Anda kepada apa yang mendesak dan yang benar-benar penting. Mewah—meskipun mampu secara finansial—itu bukanlah hal yang penting, yang amat penting adalah “cukup”, saat butuh “ada”.

Maka akhirnya, siapapun yang terlalu bermewah-mewah akan kewalahan sendiri dengan mengurus kemewahan dan mengabaikan “fungsi” dan manfaat dari kemewahan tersebut. Dengan kata lain, “Membiasakan diri dengan hal yang sebenarnya tak penting beresiko pengabaian terhadap yang ‘penting’”.

Muhammad Ghozali Ma’ruf, M.Psi.
www.gusmakruf.com

Gerak, Barokah dan Perubahan

Seperti kisah kebanyakan, terkadang ada banyak hal yang harus diperhatikan dan dipikirkan. Kehidupan terus berjalan tanpa mengenal lelah. Ia tak pernah berhenti. Kita pun tercipta demikian, menjadi makhluk yang dinamis. Terkadang lelah dengan kenyataan yang ada. Terkadang tersenyum gembira. Namun sadarilah, dibalik keletihan itulah tersimpan kebahagiaan yang hakiki.

Roda kehidupan itu terus berputar, maka putarlah dengan gerak cerdas. Bukan gerak keras. Pastikanlah setiap langkah adalah perubahan kemajuan, bukan malah gerak ke arah ke belakang. Semua itu dapat dilakukan dengan belajar maksimal terhadap pengalaman yang sudah. Pengalaman itu bukan bekal, tetapi pengalaman yang dievaluasi dengan sungguh-sungguh dapat menjadi bekal dengan ditambah pengetahuan teori dalam menyusun langkah-langkah cerdas menuju perubahan yang lebih baik. Selain itu, dibutuhkan langkah kontinu dan sistematis.

Albarokatu ma’al harokah”. Pada setiap gerak terdapat barokah. Barokah itu berarti tambahan kebaikan di dalamnya. Bila berokah masuk ke dalam ilmu, itu berarti ilmu itu akan menjadi bermanfaat dan berkembang. Bila masuk ke dalam suatu lembaga, berarti lembaga itu semakin berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Bergerak keniscayaan yang tak boleh diindahkan. Harus senantiasa dikembangkan dan dijaga. Hidup berarti bergerak, berhenti bergerak itu berarti mati. Bila mati, maka tunggulah kehancuran yang benar-benar nyata.

Sebagai pekerja, tentu keletihan dan kelelahan itu hal yang pasti. Sebagai apapun Anda, ada jerih payah pengorbanan yang harus dibayar. Perjuangan tanpa pengorbanan ibarat perjuangan yang sia-sia belaka—bermimpi di tengah siang yang bolong.
Pilihan tepat di saat tepat adalah berjerih payah, mengabdi tanpa pamrih. Biarlah Allah yang menentukan jalan kita semua. Karena kenyataan yang kita pikirkan tidak selalu beriringan dengan akal logika yang kita gunakan. Akal serba terbatas, tak bisa menciptakan kehidupan masa depannya hanya berdasarkan akal. Memastikan pun tak mampu. Ia hanya bisa digunakan untuk merencanakan dan melakukan. Tidak untuk memastikan harapan yang menjadi keinginan benar-benar terwujud.

Manusia diciptakan dengan keterbatasan. Ia tidak akan mampu melompat dari ketentuan yang Pencipta tentukan. Batas manusia dalam usaha adalah sekedar berencana, dan melaksanakan (ikhtiar). Hasil itu bukan kawasan hak manusia. Itu urusan sang pencipta. Namun, apa pun itu harus senantiasa diyakini ada banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Semua yang diciptakan oleh Allah mengandung banyak kebaikan dan hikmah. Maka teruslah berusaha, meski itu “sekecil” apapun. Siapa tahu, perantara usaha yang kecil tersebut, ia benar-benar akan ditentukan berhasil di kemudian waktu. Seperti kebaikan, jangan menilai besar kecilnya. Kita pun tak tahu kebaikan yang mana yang dapat menghantarkan ke surga-Nya.

Akhirnya, teruslah berusaha tanpa henti. Betapa pun tak berartinya usaha tersebut. Jangan penting jangan mengenal lelah. Faidzaa faraghta fanshaab, wa ilaa robbika farghab. Wallahu A’lam…

Cahaya

Pada cahaya lilin, pandanglah bagaimana ia dapat menerangi dan begitu berarti di saat gelap gulita

Kegelapan dunia ini menjadikan pandangan seseorang tertutupi. Ibarat ruang gelap gulit, ia tersandung, tertabrak bahkan akan tersungkur jatuh ke lantai.

Perhatikan lentera-lentera di rumah gubuk zaman terdahulu, mereka begitu sangat berarti ketika tak ada cahaya selain cahaya tersebut. Gerak manusianya ketika malam tiba, begitu terbatas. Manusia benar-benar berada dalam peristirahatan total. Mentari terbit, mereka pun bekerja tak menyiakan waktu hingga mentari kembali terbenam.

Kembali ke zaman sekarang, dunia tampak segar. Malam serasa siang, sehingga banyak yg bergadang hingga larut pagi. Ada yg asyik dengan pekerjaannya, tambal sulam pekerjaan yg tertunda, atau hanya sia-sia dengan menghabiskan quota. Mereka tidak menikmati betul waktu malam sebagai istirahat total. Sehingga paginya begitu berat, sepanjang hari itu terasa begitu melelahkan.

“sesuatu yang banyak akan menjadi murah, kecuali ilmu dan budi pekerti”.

Ilmu ibaratkan lampu, semakin besar lampu dan aliran listriknya dg mengamalkannya, maka akan semakin menerangi pemiliknya. Tak ada guna lampu tanpa aliran listrik, senagaimana ilmu tanpa diamalkan. Bukan ilmu yg disalahkan, tapi orang yg berilmu.