Cepat atau Lambat

Cepat seringkali bernilai dibanding lambat. Cepat kuliahnya, cepat nikahnya, cepat punya rumahnya dan cepat kuat finansialnya.

Andai saja ia dapat kembali ke waktu yang telah berlalu, apa kiranya yang akan diperbuat olehnya.

Apakah hakekat diam? apakah hakekat bergerak? apakah setiap diam tak bergerak dan sebaliknya? mungkinkah gerakmu adalah diam dan diammu adalah gerakmu?

insaala thaaba wainlam yasil lam yatibi. hanya dengan bergerak dinamis, segalanya dapat dirasakan perubahannya. pentingkah bergerak dengan suatu perencanaan yang pasti.

jika bergerak hanya sekedar gerak, maka tong kosong juga jaring bunyinya: kosong isinya.

akupun berpikir tentang waktu. ciptaan Allah (makhluknya). semogan mendapatkan hidayah

Baik di Hadapan Allah Swt

Memang benar seseorang harus selalu baik dalam hubungannya terhadap manusia. Sayangnya, ada hal yang lebih esensial dan ditinggalkan kebanyakan: Allah Swt. Hati dengan segenap jiwa difokuskan hanya kepada Dzat Maha Kuasa.

Maka pastinya, akan dipermudahkan bagi seseorang untuk menyayangi kepada musuh-musuhnya: pembencinya, penfitnahnya dan penghancurnya. ia kemudian tak menjadi seseorang yang baik karena diperlakukan baik oleh orang lain. Tetapi, ia baik semata-mata karena kebaikan dirinya berkah Allah Swt.

Dinamika yang dipahami bukan berusaha baik di hadapan manusia terlebih dahulu. Hal demikian tak menjamin membawa kepada kebaikan di hadapan Allah Swt. Baik “karena” manusia biasanya diselimuti nafsu ananiyah yang membawa kepada “pamrih”. Bila pemberiannya tak dihargai, marahlah dia. Bila kebaikannya tak dibalas baik oleh orang lain, gusarlah dia.

tak mudah mencintai kepada mereka yang membenci. Seperti halnya tak gampang memberi kepada mereka yang “seringkali” menyakiti bahkan mengancam jiwa. “Asas assarru bissarri” sudah tak lazim dipertahankan. Meskipun, orang baik di masa ini lebih mudah menghitamkan yang putih dan memutihkan yang jelas-jelas hitam.

Dahulukan Allah, carilah perhatian-Nya dengan sungguh-sungguh. Hanya Allah Swt pengatur segala rejeki, dan hanya kepadaNya tempat bersandar dari segala hambatan. wallahu a’lam bishshawaab.

Berbuat Baik

Kebaikan tak kan pernah hengkang dari dunia, begitu pun keburukan. Berperang satu sama lain. Mengambil peran masing-masing untuk menyetir kehidupan.

Saya selalu bertemu dengan seseorang yang berbeda-beda. Ada yang suka memberi dan ada yang masih belum sempat memberi. Ada yang sering membantu, ada pula yang belum bisa membantu. Saya selalu berpikir, Allah yang menggerakkan mereka.

Berbuat baik sejatinya adalah hidayah Allah. Mereka yang belum bisa berbaik kepada tetangga, saudara seiman atau orang lain sejatinya belum mendapatkan hidayah. Oleh sebab itu, sebagai muslim, tak elok menilai keimanan orang lain. Alih-alih mengecap dengan “mantap”: ia adalah baik, ia adalah tak baik.

Status seseorang dinilai oleh Allah. Keimanan yang membedakan posisi dan kedudukan di hadapan Allah. Seseorang yang berbuat baik belum tentu beriman: tergantung kepada niatnya. Qila: “Niat itu kedudukannya lebih utama daripada amal.”

Dalam beramal kebaikan, niat adalah fondasi utama. Semakin kuat, amal kebaikan semakin memberi pengaruh kepada pelakunya. Perbaiki niatnya, barulah beramal dengan optimal. Selain itu, berbaik bukan berarti di satu bidang dan bidang lain ditinggalkan. Kesemuanya disatukan sehingga tidak ada yang diabaikan. Baik itu: (1) hubungan kita kepada Allah, (2) kepada sesama manusia, (3) Kepada diri sendiri, dan (4) Kepada lingkungan sekitar.

Terhadap orang “yang belum bisa baik”, maka kita berusaha untuk merangkulnya. Bukan membenci apalagi memusuhinya. Ia tetaplah makhluk Allah yang belum tentu selalu tak baik, dan kita belum tentu lebih baik darinya. Tepatlah kiranya tanpa menghakimi. Bimbinglah ia menuju hidayah-Nya.

Memang tak mudah mencintai orang yang membenci kita, memberi kepada yang memfitnah kita dan berbaik hati kepada yang mendhalimi kita. Sekali lagi, “teruslah berniat baik”, “teruslah berbuat baik”. Setiap kebaikan, sekecil apapun pasti akan dibalas oleh Allah.

Sesungguhnya, seseorang yang berbuat baik maka sebenarnya ia berbuat baik kepada dirinya sendiri. Seseorang yang berbuat buruk, ia berbuat buruk kepada dirinya sendiri.

Kepuasan Sejati

“Kepuasan sejati terletak pada upaya, bukan pencapaian.” (Mahatma Gandhi, 1947)

Pernyataan Gandhi di atas selarah dengan pernyataan Ulama Salafus Sholih. Berabad-abad tahun sebelum itu semua. “Fanshab, fainna ladzidzil ‘aisyi finnashabi”. Apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini?

Kebahagiaan adalah yang dicari. Untuk apa uang 10 Milyar, bila hidup terguncang. Untuk apa rumah berlantai, bila kondisi penghuninya tertekan. Sekali lagi, kebahagiaan hanyalah “sarana”. Bukan sebagai “tujuan”.

Jika dianggap sebagai tujuan, maka apabila tak terpenuhi akan membawa kepada frustasi. Menjalani aktivitas sebagai upaya ibadah akan membawa kepada kebahagiaan. Baik itu prosesnya, atau pun hasilnya.

Penampilan

“Penampilan bukanlah segala-galanya. Tak penting, apalah dia: kaya-raya, cakep-mantep, atau pun berilmu-lemmu”.

Jaman now adalah jaman penuh godaan. Dari atas ke bawah. Kalau Anda benar-benar menjadi baik, tentu tidaklah semudah menjadi orang yang tak baik. Katanya: terlalu berisiko menjadi orang baik.

Disangkanya ada udang di balik batu. Hanya luarnya saja, hatinya iblis. Ada yang bilang, modus. Tapi sebenarnya, resiko itu cuma di awal. Orang baik pasti selalu dicintai oleh penduduk bumi dan penduduk langit. Percayalah.