dalam Refleksi

Gerak, Barokah dan Perubahan

Seperti kisah kebanyakan, terkadang ada banyak hal yang harus diperhatikan dan dipikirkan. Kehidupan terus berjalan tanpa mengenal lelah. Ia tak pernah berhenti. Kita pun tercipta demikian, menjadi makhluk yang dinamis. Terkadang lelah dengan kenyataan yang ada. Terkadang tersenyum gembira. Namun sadarilah, dibalik keletihan itulah tersimpan kebahagiaan yang hakiki.

Roda kehidupan itu terus berputar, maka putarlah dengan gerak cerdas. Bukan gerak keras. Pastikanlah setiap langkah adalah perubahan kemajuan, bukan malah gerak ke arah ke belakang. Semua itu dapat dilakukan dengan belajar maksimal terhadap pengalaman yang sudah. Pengalaman itu bukan bekal, tetapi pengalaman yang dievaluasi dengan sungguh-sungguh dapat menjadi bekal dengan ditambah pengetahuan teori dalam menyusun langkah-langkah cerdas menuju perubahan yang lebih baik. Selain itu, dibutuhkan langkah kontinu dan sistematis.

Albarokatu ma’al harokah”. Pada setiap gerak terdapat barokah. Barokah itu berarti tambahan kebaikan di dalamnya. Bila berokah masuk ke dalam ilmu, itu berarti ilmu itu akan menjadi bermanfaat dan berkembang. Bila masuk ke dalam suatu lembaga, berarti lembaga itu semakin berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Bergerak keniscayaan yang tak boleh diindahkan. Harus senantiasa dikembangkan dan dijaga. Hidup berarti bergerak, berhenti bergerak itu berarti mati. Bila mati, maka tunggulah kehancuran yang benar-benar nyata.

Sebagai pekerja, tentu keletihan dan kelelahan itu hal yang pasti. Sebagai apapun Anda, ada jerih payah pengorbanan yang harus dibayar. Perjuangan tanpa pengorbanan ibarat perjuangan yang sia-sia belaka—bermimpi di tengah siang yang bolong.
Pilihan tepat di saat tepat adalah berjerih payah, mengabdi tanpa pamrih. Biarlah Allah yang menentukan jalan kita semua. Karena kenyataan yang kita pikirkan tidak selalu beriringan dengan akal logika yang kita gunakan. Akal serba terbatas, tak bisa menciptakan kehidupan masa depannya hanya berdasarkan akal. Memastikan pun tak mampu. Ia hanya bisa digunakan untuk merencanakan dan melakukan. Tidak untuk memastikan harapan yang menjadi keinginan benar-benar terwujud.

Manusia diciptakan dengan keterbatasan. Ia tidak akan mampu melompat dari ketentuan yang Pencipta tentukan. Batas manusia dalam usaha adalah sekedar berencana, dan melaksanakan (ikhtiar). Hasil itu bukan kawasan hak manusia. Itu urusan sang pencipta. Namun, apa pun itu harus senantiasa diyakini ada banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Semua yang diciptakan oleh Allah mengandung banyak kebaikan dan hikmah. Maka teruslah berusaha, meski itu “sekecil” apapun. Siapa tahu, perantara usaha yang kecil tersebut, ia benar-benar akan ditentukan berhasil di kemudian waktu. Seperti kebaikan, jangan menilai besar kecilnya. Kita pun tak tahu kebaikan yang mana yang dapat menghantarkan ke surga-Nya.

Akhirnya, teruslah berusaha tanpa henti. Betapa pun tak berartinya usaha tersebut. Jangan penting jangan mengenal lelah. Faidzaa faraghta fanshaab, wa ilaa robbika farghab. Wallahu A’lam…

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar