dalam Catatan Kecil

Keberanian

Dia selalu bilang kepada anak-anak itu; “Kalau mati; dengan berani, kalau hidup; hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita” (Pram)

Seseorang perlu belajar menempatkan diri pada titik keseimbangan. Yaitu, antara ketakutan (khouf) dan harapan (arraja’). Keduanya, membantu seoptimal mungkin bagi siapapun dengan landasan iman kepada Allah.

Bila ketakutan menguasai, maka banyak kesempatan yang terbuang sia-sia. Banyak tugas-tugas yang terlunta-lunta dan akhirnya kegagalan benar-benar menjadi nyata. pada hal ini, seseorang akan merasa ciut dalam hadapi tantangan di depannya.

Bila mana harapan terlalu menguasai, maka waktu terasa lama, kekecewaan mungkin terjadi. Ambisi menjadi model diri, apabila tak tercapai maka hilang kendali. Ia gagal, dan tak mau bangkit kembali oleh gengsi.

ketakutan mungkin lebih banyak dirasakan; daripada keyakinan. Takut gagal, takut miskin, takut ditolak dan seterusnya. Bisakah keragu-raguan itu dihilangkan?

Meskipun begitu, ada sebagian yang terlalu percaya diri: lupa bahwa dirinya bukanlah apa-apa. Merasa bisa, tak sebenarnya tidaklah terlalu bisa.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar