dalam Uncategorized

Keikhlasan

“Syetan pun tak kuasa menggoda orang yang ikhlas”

Di saat kita bekerja semata-mata karena urusan perut, maka kita ikhlas kepada perut. Bekerja karena keluarga di rumah, itu juga “ikhlas kepada keluarga”—bukan ikhlas kepada Allah. Sebaliknya, jika bekerja karena perut sendiri dan keluarga itu namanya “isyraq” (persekutuan), persekutuan antara perut dan keluarga. Tidak dikatakan ikhlas kepada perut, dan juga tidak dikatakan ikhlas kepada keluarga.

Ikhlas berarti murni, tiada tercampur. Seperti emas, semakin murni maka akan semakin berharga. Ikhlas di dalam pandangan kita berarti ‘ikhlas semata-mata hanya kepada Allah”. Kita bekerja, hanya karena Allah—tidak mengharap dunia dan kepentingan lainnya. Bahkana di dalam segala bidang dituntut untuk ikhlas.

Ikhlas berarti tempat akhir segala sesuatunya. Disebut bekerja ikhlas karena Allah, menunjukkan di dalam bekerja didasarkan pada tujuan yang satu, yaitu Allah Swt. Keberadaan ikhlas di dalam sanubari tentu akan sangat membantu kita meringankan kemelut dunia, kegagalan dan sebagainya.

Terlalu berharap kepada tujuan selain Allah, maka akan menimbulkan kefrustasian bila senyatanya itu tidak tercapai. Seorang lelaki melamar gadis, ia sandarkan tujuan segala bentuk upaya kepada gadis—penerimaannya. Tetapi, nyatanya ia ditolak karena si gadis harus menyelesaikan kuliah. Sakitlah hatinya, pupuslah harapannya, ia bimbang dan tak nafsu makan. Berbeda bila ia ‘melamar’ karena Allah, ia tak meletakkan harapannya hanya kepada Allah. Ia tak sakit bila lamarannya tertolak. Karena ia yakin, Allah memberikan yang terbaik, dan “itu bukan akhir segalanya”. Akhir segalanya hanyalah Allah.

Karena ikhlas terletak di dalam hati seseorang, maka sulit terlacak dzohirnya. Ia menempati pada hati yang suci, tidak pada hati yang keras dan lagi kotor. Segala sesuatu, disandarkan kepada Allah, dalam geriknya ada Allah. Maka sebenarnya ikhlas berkaitan dengan mengingat Allah, kemudian menjadikan ia satu-satunya tujuan dari segala amal di dunia ini.

Betapa banyaknya amal akhirat tanpak sebagai amal akhirat, tetapi sebenarnya tidak diterima di sisi-Nya. Betapa banyak amal dunia, tetapi karena ikhlas maka ia diterima di sisi-Nya dan dianggap sebagai amal akhirat. Wallahu a’lam..

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar