oleh

Kelalaian

Dalam perjalanan, seseorang perlu selalu bersikap awas dan berhati-hati. Ia tidak boleh lengah sedikitpun. Karena hal itu akan menyebabkan kefatalan, nyawa bisa menjadi taruhannya. Itulah analogi yang pas bagaimana sikap awas yang merupakan kebalikan dari lalai digambarkan. Dalam urusan berkendara, awas menjadi hal urgen. Apalagi di dalam urusan beragama di dalam kehidupan ini. Hidup di dunia kurang lebih demikian, bahkan ada yang mengatakan seperti menyeberang di jalan. Kita harus terus bersikap awas dan tidak boleh lengah.

Kelalaian kepada Allah SWT jauh lebih berbahaya dibanding kelalaian kita saat berkendara. Bila saja, kita kehilangan harta, harta masih bisa dicari dan diusahakan. Tetapi di akhirat kelak, yang semuanya tergantung kehidupan kita di dunia, saat kita benar-benar kehilangan Allah, maka apalah arti kita semua. Seterusnya, tidak lalai berarti mawas diri. Sikap sadar diri berarti senantiasa berdzikir dan ingat kepada AllahSWT. Allah akan memberi petunjuk kita, menjadi sopir bagi kehidupan kita yang akan memberikan petunjuk berkehidupan. Saat masalah datang, Allah pasti akan memberikan solusinya. Saat kita senang, maka Allah juga mengingatkan kita agar jangan lupa bersyukur.

Hidup jauh lebih indah bila semuanya disandarkan dalam kesadaran yang kaffah akan kekuasaan Allah atas diri kita. Ia yang maha kuasa tak pernah membiarkan kita, ia selalu memperhatikan setiap langkah dan gerik, nyata atau tersamarkan, sekarang dan yang akan datang. Semuanya Allah menyaksikan dan memperhatikan. Saat kita benar ingat kepadaNya, maka akan memberikan pancarah nur ilahiyah, membimbing kita.

Namun terkadang, kondisi kita jauh dari keadaan ideal tersebut. Kita terombang ambing dalam keadaan yang tidak jelas. Disibukkan oleh urusan yang tak penting, bahkan tak ada sangkut pautnya dengan “urusan agama”. laisa minna man laa yahtamma biamril mukminin. Di dalam urusan agama ada nilai ukhuwah islam, sehingga cinta dan kasih sayang mendapatkan porsi istimewa dalam beragama. “bukanlah golongan kami mereka yang tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak menyayangi kepada yang lebih muda”.

Kelalaian kita akan Sang Pencipta, Rabbal ‘Alamin menjadikan diri menjadi semakin tamak, takabbur dan sombong. Tidak memperdulikan urusan orang lain. Teman dianggap musuh, tetangga dibenci, orang miskin dijauhi. Seolah kita harus hidup dengan urusan kita sendiri, disibukkan untuk kepentingan pribadi saja.

Dalam kitab “Iqadul Himami”, syarh kitab al-hikam disebutkan, beberapa penyebab dari kelalaian seseorang. Yang pertama yaitu “kecintaan terhadap dunia”. seseorang tidak bisa dikatakan cinta jika ia memiliki harta. Tetapi cinta lebih dari sekedar itu, sebagaimana kasmarannya orang yang sedang jatuh cinta. Akalnya mati, emosinya aktif. Tak peduli najis, ia anggap suci. Cinta membutakan, ia tidak sadar akan sebuah kebenaran.

Cinta dunia pun demikian. Ia menjadi manusia yang tak peduli kepada apapun, kecuali “hanya soal dunia”. ia tak lagi melihat manakah tetangganya yang kelaparan di tengah malam, ia tak peduli hubungan kekeluargaan gegara urusan tanah warisan. Dan banyak contoh yang tak mungkin bisa disebutkan. Namun kepastiannya, cinta dunia membutakan dari segalanya. Bahkan menjadi penghalang antara dia dengan rabbnya. Ia tidak pantas menerima pancaran cahaya ilahi hingga ia berani berubah dan membuka hijab penghalang tersebut.

Kedua, yaitu merasa cukup puas hanya pada dhohir syariat. Ia merasa amal ibadahnya telah diterima karena merasakan manisnya dzikir, indahnya shalat di penghujung akhir malam. Ketentramannya justru menjadikannya tidak ingat “siapa yang memberikan assakinah” di dalam dirinya. Ia merasa menjadi makhluk Allah pilihan karena diberikan fadhol khoriqul ‘adah. Padahal, bisa jadi itu merupakan istidraj bagi dirinya. Allah sedang mengujinya dengan pemberianNya.

Mudahnya, kadang orang kalau sudah diberi nikmat menjadi terlalu terlena dan akhirnya mengarahkan dirinya lupa kepada pemberi nikmat. Jangan-jangan bila diberi surga ia lupa siapa yang menciptakan surga. Maka sebenarnya, tidak ada yang perlu dikejar di dunia ini. Kita seharusnya mengejar Allah SWT, Dzat pencipta dan pemilik alam semesta ini. Memberikan tanpa mengharap balas. Dzat yang paling maha sempurna mengasihi kita. Seseorang yang mencintai kita hingga mati-matian, maka Allahlah yang mencitai kita lebih dari apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Ketiga, keterikatan kita pada hukum sebab-musabab. Kita terlalu memastikan, seolah menghalau hak kekuasaan Allah akan alam ini. Misalnya, api itu sebab, dan menyebabkan panas. Keyakinan “kepastian” api membawa panas memberi dampak bahwa kita sudah memasuki wilayah kekuasaan Allah. Hal ini menyebabkan kita lalai. Padahal, ada api yang tidak menyebabkan panas seperti api yang membakar nabi Ibrahim. Begitupun dengan semua hal yang sering menjadi kebiasaan di dunia ini.

Contoh lain misalnya rejeki, rejeki merupakan musabab, sebabnya adalah kasab (usaha). maka kalau menggunakan alur pikiran ini, kalau tidak berusaha, maka tidak bisa makan besok. Sehingga ia lupa, makan besok itu bukan urusannya, itu urusan Allah SWT. Kelancangan inilah yang menjadikan kita lalai dan lengah, sehingga kita jauh dari allah. Akibatnya, kita menjadi manusia yang tak pantas disebut manusia, lebih-lebih sebagai hamba Allah. Seolah menjadi manusia yang paling buas. Kelalain mengakibatkan kita terlempar dari status dan diri kita yang seutuhnya. Tidak ingat siapa diri kita, apa kewajiban kita. Sehingga, muncullah manusia yang egoisme, seenaknya sendiri menurut alur pikiran kepentingannya. Pemimpin yang berperilaku bukan pemimpin. Rakyat yang bersikap bukan sebagai rakyat, justru ingin mengatur juga seperti pemimpin. Kan repot.