dalam Refleksi

Kesalahan

Sekarang ini khususnya jaman now, kian merebak “Kambing Hitam”. Dalam diskusi-diskusi, pemecahan masalah terlalu banyak yang disudutkan, bahkan dikambinghitamkan. Pihak ini mengatakan, “…. Kan sudah ada buktinya, jadi sudah jelas dialah orangnya”. Dalam kasus yang lebih sederhana, begitu mudahnya menemukan kesalahan orang lain dibanding kebenarannya.

“Kamu ini, sentoloyo”, “makanya, mikir dong … Mikir …”, “Otakmu jangan diletakkan di kepala, taruh aja tuh di tumitmu”. Ini contoh ungkapan yang tak pantas dinyatakan. Ketika dia berkata demikian, ia sebenarnya tak ingin dirinya jatuh (harga dirinya). Cara untuk menutupinya, segeralah menyalahkan orang lain. Atau, memang ia memanfaatkan kesempatan yang jelas pada orang lain sehingga menjadi lebih besar porsi kesalahannya.

Jadi sebenarnya, kesalahan itu berada pada yang paling gigih menggembor-gemborkan kesalahan orang lain. Apa kepentingannya, tentu ia ingin berdiri di atas kesalahan orang lain sebagai sosok yang tak bersalah (menjaga harga dirinya).

Maka sebenarnya, seseorang yang merasa “paling” benar sendiri nyata paling banyak salahnya. Ia bersembunyi di balik gertakan mental kepada orang lain. Seseorang yang seperti ini biasanya berbuat baik karena konfirmasi dari lingkungannya. Ia merasa ‘tak nyaman jika tak berbaik hati’. Akibatnya, ia cukup handal menjadi “pemain belakang”.

Dengan begitu, kita wajib mengambil sikap tegas pada diri sendiri: bukan pada orang lain. Mulai sekarang, jika melihat kesalahan atau dosa orang lain, berusahalah melihat dan introspeksi atas kesalahan diri sendiri. Berusahalah agar tidak menjadi pengikut pandangan ini: “Semut di seberang tampak, gajah di depan pelupuk mata tak tampak”.

Semoga kita esok menjadi pribadi yang lebih baik.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar