dalam Uncategorized

Masalah dan Waktu

Mengapa harus membalas dengan semisal? Seorang bapak marah, keluarlah kata-kata yang mencerminkan seorang preman. Pasalnya, anak menumpahkan kopinya. Dicercalah anaknya, dibentaklah ia sejadi-jadinya. “Kamu itu, ditarok mana matamu? Dasar,.. Lihat-lihat”, kata si Bapak. Si anak hanya diam, menangis. Untunglah dia masih polos, tak tahu apa itu kopi. Andaikata ia sudah dewasa, barangkali diam diam ia akan menjawab di dalam hati, “Ditarok di kepala lah, sialan”.

Seseorang tercipta dengan hasratnya. Ia dapat terus bertahan, bereksistensi oleh sebab hasrat itu. Peradaban-peradaban terbangun dengan kokoh, kota megametropolitan, seribu candi hatta piramida di Mesir. Semuanya, tercipta oleh hasrat yang terkandung di dalamnya sebuah “harapan”.Termasuk si bapak, ia berhasrat dan berharap agar “ngopi” paginya setenang kondisi pagi itu.

Tak cukup sampai di situ. Ternyata, si bapak terus gusar sepanjang hari hingga menjelang malam. Mobil di depannya di klakson layaknya orang stress, istrinya di bentak, bosnya di kantor dikacangin. Tukang cilok depan kantornya pun ikut menjadi korban, karena tak sengaja melirik istrinya. Masalah bisa terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Masalah tak mungkin lepas dari waktu. Ia bisa lenyap atau menjelma menjadi lebih besar, lebih besar dari apa yang dibayangkan. Biasanya, ketika masalah itu “menggantung” tanpa keputusan dan kejelasan, ia akan tumbuh menjadi lebih besar.

Maka orang-orang pun terbiasakan oleh hal itu. Masalah kecil, dibesar-besarkan. Tidak ada masalah, dibikinlah masalah. Tak ayal, beberapa orang sengaja memanfaatkan kondisi itu: “dikompor-komporilah dia”. Sediki demi sedikit tapi pasti. Saat tibalah waktunya, “meledaklah” suasana itu. Waktu memang demikian.

Di sisi berbeda, orang-orang (dari sebagian yang lain) menyikapi berbeda. Ia tak menampik masalah, ia menerima bahwa itu masalah. Ketenangan jiwanya dan tak terpancing kondisi, ia lenyapkan masalah itu. Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dihilangkan. Ia tahu, hidup itu pasti bermasalah. Karenanya, ia tak ingin “menghidupkan” masalah.

Si anak kencur tadi kini sudah dewasa, ia berbisik, “bapak telah tiada, menumpahkan kopi bukanlah masalah, tetapi anggapan saya tentang kejengkelan bapak yang menjadi masalahnya. Saya khilaf. Maafkanlah saya, wahai bapak”.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar