dalam Menulis, Refleksi

Membenci

“Di mata pembenci, seorang yang nyaris baik sekalipun akan tampak keburukannya. Di mata pencinta, seorang yang buruk peragainya tidak akan tanpak baginya”

Bang Ali (nama samaran) kelabakan, pekerjaannya berantakan. Deadline tertunda, namun sekarang telah menunjukkan perbaikan dibanding sebulan belakangan. Atasanya selalu menganggap bawahannya tersebut tidak profesional, sekalipun menunjukkan perkembangan perubahan yang lebih baik. Ia dimakinya habis-habis setiap “penutupan” akhir bulan. Tentu saja, Bang Ali menggerutu di dalam hati. “Apa dia tidak melihat dirinya sendiri, berbuat bebas atas dasar kemauan dirinya sendiri”.

Memang benar adanya, “gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Kebencian telah merasuki sebagian kaum muslimin, solidaritas kelompok-kelompok keislaman menambah subur sikap keakuan dan keangguhan dan menganggap kelompoknya lebih baik. Yang lain—karena berbeda pandangan—dianggapnya salah. Seberang pendapat sangat menggoda sebagian menyalahkan orang lain untuk mengukuhkan dirinya “benar”. Dalam bentuk ekstrim, ada yang “merendahkan” agar sekedar dianggap “lebih tinggi” dibanding dengan yang lain.

Ironi, tetapi itulah kenyataan keseharian kita. Kebencian kian terasa dalam nadi kehidupan kita sendiri. Kita seolah menjadi orang baik di dunia ini dengan sedikit dosa. Membenci diam-diam mereka yang berbuat dosa tanpa ada niatan untuk membantu mereka kepada kebenaran. Bahkan merasa diri paling baik, orang lain banyak dosa. Lantas kita membenci orangnya, tanpa memahami. Bisa jadi, mereka ingin keluar dari lembah dosa, namun daya dan langkah sulit diupayakan.

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu”. Cintailah merdunya suara-suara manusia yang berisi hinaan, fitnah dan kebencian terhadap diri kita. Bisa jadi itu petanda agar kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Dia—Allah Swt—merindukan diri kita yang terlampau jauh melupakannya. Bisa jadi, itu ujian yang harus dilalui untuk menuju keridhaan. Bukankah Allah Swt pasti akan menguji setiap hamba-Nya?

Seseorang tidak akan menghina, menfitnah dan mengolok-ngolok kecuali dirinya merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang. Karena persaingan, atau pun kebencian. Jika pada dasarnya seseorang membenci, itu berarti ia tidak ingin kalah martabat dibandingkan dengan orang tersebut. Hanya karena profesinya sama, ia lantas mudah membenci karena eksistensinya terancam—padahal tidak ada yang bermaksud mengancam.

Tetaplah mencintai dan berbuat baik, meskipun seseorang terus membenci. Karena Allah senantiasa menguji setiap hamba-Nya dan bisa jadi Dia membaliknya hati seseorang sekehendak-Nya.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar