dalam Menulis, Refleksi

Menulis dan Kebermaknaan Hidup

Banyak orang yang menulis, namun tidak merasakah nikmatnya menulis. Termasuk diri saya sendiri. Saya belum bisa menikmati betul pengalaman flow di dalam menulis. Tenggelam dan larut menuliskan suatu yang ingin disampaikan. Lebih-lebih pada taraf merasakan kebermaknaan hidup dengan medium menulis.

Pertemuan saya dengan Syaikh Imam al-Ghazali melalui kitabnya, “Bidayah al-Hidayah” memberi pencerahan tersendiri. Bahwa menulis itu aktivitas seseorang yang mulia. Suatu kemulian tak diraih dengan jalan yang nyaman, santai dan penuh kemudahan. Justru di situlah, nilai lebih menulis karena tantangannya yang begitu berat.

Beliau juga menyatakan bahwa tulisan merupakan bagian dari lisan. Oleh sebab itu, apa yang tak pantas diucapkan oleh lisan seyogyanya tak pantas untuk dituliskan. Beliau yang telah hidup beberapa abad yang lalu, sebagai ilmuan, ulama dan penulis tersohor dengan ribuan kitab klasiknya benar-benar menyadari pentingnya meraih makna hidup dengan menulis dengan perjuangan yang berliku.

Kepenulisan bagi saya adalah dalam rangka meraih kemulian. Tidak hanya dengan menyampaikan pengetahuan yang dipahami, tetapi sebagai langkah strategis menata pengetahuan di dalam pikiran dan terintegral dengan pengetahuan lainnya. Di situlah hal baru didapatkan akibat perpaduan demi perpaduan. Selain itu, menulis sudah menjadi semacam media problem solving untuk menemukan suatu solusi. Sayangnya, hingga kini saya tak dapat menikmati dunia menulis sebagai sesuatu yang objektif, terlepas apakah saya merasakan manfaat menulis atau tidak.

Menulis itu memanglah pekerjaan mulia. Karena melalui perantara itu kita bisa belajar. Meskipun di sisi lain, tulisan bukanlah satu-satunya “yang bisa dibaca”. Karena membaca dalam pandangan Agama Islam tidak terbatas pada tulisan, namun bisa bermakna lebih luas. Islam mengajarkan banyak membaca dan juga sekaligus banyak menulis. Ulama terdahulu telah banyak membuktikannya.
Sebagai contoh, Ulama Nusantara yang karyanya telah dimanfaatkan oleh pelajar di Al-Azhar Cairo-Mesir. Yaitu Syeikh Dahlan Jampes dari Kediri Jawa Timur. Hingga sekarang kitab tersebut dipergunakan di universitas terkemuka tersebut.

Saya tak ingin menulis hanya sekedar merampungkan tulisan menjadi buku ataupun artikel tertentu tanpa ada ruh. Ruh yang menghidupkan tulisan sehingga menjadi bermanfaat dan berguna bagi orang lain.

Menulis merupakan aktivitas mulia dalam pandangan Islam, maka tak pantas bila ternyata yang dituliskannya adalah hal yang remeh-temeh, tak bermanfaat bahkan menimbulkan mudharat.
Menulis saja memang tak mudah, apalagi melahirkan tulisan-tulisan yang “bernyawa” sehingga hidup sekian abad lamanya seperti karya ulama terdahulu. Jelaslah, tak semudah menulis di media sosial, dan jelaslah ada “sesuatu” yang tak bisa dipahami oleh kebanyakan akan rahasia di balik itu semua.

Saya yakin, mereka para penulis kitab terdahulu tidak pernah bercita-cita untuk menjadi penulis terkenal apalagi ingin mendapatkan perhatian dunia. Ada alasan yang benar dan kaut dibalik mengapa mereka menulis.

Saya malu bila tak menulis. Saya juga malu bila tak memiliki buku karya sendiri. Bukan malu karena tak kunjung menjadi penulis best-seller. Saya takut, kalau tiba-tiba ajal keburu datang sedangkan diri saya belum bermanfaat bagi orang lain.

Oleh sebab itulah, komunitas kepenulisan menjadi penting untuk mendongkrak semangat diri yang telah terkubur dan pupus oleh pengaruh zaman. Berteman dan bergaul dengan calon penulis masa depan tak ubahnya menata masa depan.

#OneDayOnePost #ODOPBatch7 #KomunitasODOP

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar

  1. Saya malu bila tak menulis. Saya juga malu bila tak memiliki buku karya sendiri. Bukan malu karena tak kunjung menjadi penulis best-seller. Saya takut, kalau tiba-tiba ajal keburu datang sedangkan diri saya belum bermanfaat bagi orang lain.

    — itu keren banget!

    Semoga kita selalu bisa menulis yang baik-baik dan bermanfaat .. salam kenal.