oleh

Pemuda Pinggiran Jalan

Kali ini kisah dari pelosok desa.

Seorang tokoh berjalan melewati seorang pemuda tepat di pintu gerbang masuk dusun suatu desa. Sebungkus rokok, duduk jongkok dan plastik kresek menemani pemuda itu. Duduk memandang bulan, asap rokok mengebul tak beraturan. Sorot lampu jalan yang terang memastikan bahwa ia seorang diri. Entah kemana pergi temannya. Jelas tak mungkin ia seorang diri. Bisakah ia betah berlama-lama seorang diri di pinggiran jalan?

Dan di tempat itu, tokoh agama tersebut sadar ini diluar kebiasaan. Kebiasaan di  desa yang dikenal agamis, pemegang nilai-nilai ajaran agama yang kokoh seakan runtuh oleh pemuda tersebut. “Pemuda sekarang semakin rusak”, pikir tokoh tersebut. Ia lewati pemuda dengan getir, takut adzab Allah akan menimpa seluruh desa.

Satu dasawarsa lampau, musholla-musholla masih ramai dengan anak-anak belajar mengaji. Masjid masih ramai oleh jamaah, madrasah-madrasah selalu menjadi pilihan tepat. Warung-warung di bulan Ramadhan tutup ketika saat puasa. “Sekarang berbeda”. rumah tak lagi menjadikan pemuda betah di dalamnya, apalagi masjid. Sekolah bukan lagi kebutuhan. Mereka lebih senang “me time” dengan dalih kebebasan. Semboyan yang mereka ungkapkan, “Hidupmu ya hidupmu, hidupku ya hidupku. Gak perlu kau urus aku, urus saja urusanmu.”

Adakah yang bisa tenang mendengar ungkapan di atas? Tenang-tenang saja, anaknya dengan temannya di pinggiran jalan. Tenang-tenang saja, saat anaknya bolos sekolah dan enggan membantu orang tua. Jikalah seperti itu, jelas sudah generasi yang akan datang adalah generasi yang semakin runtuh dan jauh dari harapan Rasulullah SAW.

Padahal, “Laisa minna man laa yahtammu biamril muslimin,” bukan termasuk golongan kami mereka yang tidak peduli (memperhatikan) urusan seorang muslim. Harus peduli, harus merasa memiliki demi mengelamatkan generasi masa depan demi kebahagiaan sejati. “Quu anfusakum wa ahlikumun naara”.