dalam Menulis, Refleksi

Peran Manusia

“Kullukum ra’in, wa kullukum masuulun ‘an ra’iiyatihi”

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggung-jawabannya atas kepemimpinannya.

Kehadiran seseorang bertujuan dan berkepentingan. Diwajibkan baginya menyembah Dzat yang Maha Esa. Kemutlakhan seorang sebagaimana makhluk untuk menyembah-Nya. Tidak untuk menambah kemulian Dzatnya. Namun, kebutuhan pribadi masing-masing makhluk—khususnya manusia—akan keselamatan dirinya: di dunia lebih-lebih di akhirat.

Setiap kita memiliki perannya masing-masing. Ada yang berperan sebagai guru, pendidik, anak, orang tua, anggota masyarakat dan sebagainya. Dengan peran yang lebih dari tunggal tersebut, tuntutan demi tuntutan sudah seharusnya dapat dipenuhi. Siswa yang rajin (tidak bolos), guru yang mendidik (tidak nyambi dengan hal lain), anak yang patuh bukan minta dipatuhi, dan sebagainya. Hal terpenting bagi kita semua adalah peran kehambaan. Bila Allah meninggalkan kita, kemanakah kita hendak pergi?

Orang kaya meninggal, penguasa meninggal, bahkan raja-raja pun meninggal. Adakah yang dapat terlepas dari jerat kematian? Masihkah ada kesombongan di dalam hati kita? Apalah guna kaya, jika disimpan dan ditumpuk kemudian ditinggalkan tanpa sempat dishadaqahkan? Apalah guna jabatan, jika terus dituruti kemudian tanpa sempat memperhatikan bahwa tanggung jawabnya sedang dalam pengawasan? Apalah guna ilmu-ilmu, sekolah tinggi-tinggi tanpa gerak pengabdian kepada kehidupan?

Kita perlu berperan dalam kehidupan. Semampu kita, dari hal termudah, terkini dan terkecil. Berbuat baik itu sederhana, tak perlu menunggu hingga menjadi kaya, tak perlu menjadi cerdas. Lakukanlah, karena kesempatan tak akan terulang kembali.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar