dalam Refleksi

Persaingan Kelembagaan

“al ulama’ waratsatul anbiya’”

Mengapa harus ada persaingan di dalam pendidikan? Bagi sebagian berambisi ingin meningkatkan kuantitas kelembagaannya: siswanya, gurunya dan gedung-gedung. Sebagian yang lain, berusaha meningkatkan kualitas di dalamnya. Sisanya, perpaduan di antara keduanya. Ada satu kesamaan dari mereka semua, “semuanya ingin sama-sama menjadi yang “terdepan dan terbaik”. Biasanya juga, mereka tak suka jika ada lawan yang menggugurkan eksistensi kelembagaannya.

Padahal sudah jelas, “mencari ilmu untuk menyaingi para ulama” bukanlah hal baik. Sebagaimana kelembagaan pendidikan didirikan. Salah kaprah dan salah niat menjadi biang keladi semua persaingan tersebut. Bermegah-megah dalam bangunan, berlomba-lomba mengajukan proposal bantuan, bahkan berebut mencari siswa sebanyak-banyaknya. Kemudian mereka berbangga atas keberhasilan tersebut.

Apakah mereka tak sadar, tak ada yang kekal di dunia ini. Jisim, bangunan apalagi “kemenangan” dunia ini: hanyalah sementara. Boleh berbangga dengan kemajuan lembaga,tapi sadarilah itu sebenarnya ujian. Kembali kepada niat awal: lillah ta’ala, untuk memajukan umat manusia.

“itu kan lembaga yang seumur jagung yang begitu”, kata mereka yang di dunia lembaga terkenal. Sama-saja, mereka mungkin tak pernah merasakan pasang surut kehidupan. Sebesar-besarnya kerajaan Majapahit sekalipun, tak tersisa hilang kecuali hanya sedikit bongkahan bekas peninggalannya. Kalau sudah surut, mereka tidak jauh berbeda. Hampir serupa.

Jangan-jangan kita telah bersusah payah membangun, mengajar, mendidikan ikhlas kepada ‘cita-cita’? jangan-jangan kita mengharap prestise di balik semua pengorbanan dan perjuangan nan berat ini. Sungguh kita tak merasa, dan juga seharusnya segera merasa.

Mendidik adalah tugas mulia. Niat-niat dan tujuan selain Allah telah merusak dan merasuk pada sebagian hati pendidik. Hal ini dapat kita saksikan perlombaan antara lembaga pendidikan secara diam-diam. Saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya, persikap acuh terhadap yang lainnya, dan tak tahu berterimakasih kepada yang telah membantunya.

Lembaga pendidikan keagamaan adalah suci, tak sepantasnya dikotori oleh tujuan-tujuan yang kotor. Tak seharusnya menaruh dendam kepada mereka yang menghancurkan, karena kehancuran itu juga takdir. Dan tak perlu berbangga diri dengan keberhasilan, karena itu juga merupakan takdir—bukan sepenuhnya hasil jerih payah tangan manusia.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar