dalam Uncategorized

Risiliensi

Andaikan ada dua orang yang memiliki kemampuan sama, kemampuan untuk bertahan (resiliensi) menjadi pembedanya. Karena setiap perjuangan pasti akan menghadapi “rintangan”, maka di situlah dibutuhkan perjuangan dan istiqomah agar dapat menghadapinya.

Siang itu saya tak sengaja melihat tayangan perlombaan robot mahasiswa suatu negara di luar sana. Mereka diuji kemampuan bagaimana merancang robot menjadi berkualitas dalam “batasan waktu tertentu”. Setelah deadline usai, tak semua peserta dapat menyelesaikan proyeknya. Hal ini menjadi penilaian tersendiri, di mana waktu juga menjadi hal yang tak boleh dikesampingkan.

Di akhir lomba, ternyata juri mengatakan bahwa perlombaan itu tidak hanya mengukur bagaimana kemampuan siswa, tetapi ada hal lain. Mereka diukur kemampuan resiliensinya, kemampuan mengatasi masalah dalam team, dan “bekerja dengan deadline”. Barulah di sini diketahui, “pekerjaan baik itu adalah pekerjaan yang selesai.”

Banyak yang bermimpi, tapi sedikit yang mau mengambil langkah pertama—mengawali atau memulai. Sebagian mereka yang telah mengawali, banyak yang tak meneruskannya. Gugur oleh waktu, di pertangahan perjalanan mereka. Seseorang dengan kemampuan resiliensi yang baik, tentu ia akan terus bertahan.

Sedikit realistis, seseorang bukanlah mesin. Ia tentu dilengkapi dengan perasaan (mood) yang mempengaruhi bagaimana kemapuan resiliensinya. Sebagain ada yang terkalahkan oleh perasaannya sendiri, ada yang dikalahkan pikirannya sendiri. Ia pun akhirnya menjadi berat melakoni (meneruskan) apa yang telah diputuskan dan dimulianya.

Di masa sekarang, godaan datang dari penjuru empat arah. Mau menulis saja bisa menjadi berat, karena terlalu dipikirkan. Bila saja ia membuka laptop tanpa banyak berpikir, barangkali tulisannya pasti sudah beberapa paragraf. Itu salah satu contoh, resiliensi dibutuhkan dalam perjuangan apapun untuk mencapai cita-cita.

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar