dalam Uncategorized

Sadar Diri

“Kaya tanpa harta, mulia tanpa merendahkan dan benar tanpa menyalahkan”

Seorang kyai namun berduit, seorang konglomerat tapi juga berkhutbah, dan seorang sarjana tapi sok tahu dan menyalahkan. Kita tahu, dan mungkin memang harus mengikuti lingkungan agar dapat berdakwah kepada mereka. Sayangnya, kita lebih banyak kehilangan identitas kita.

Niatnya beradaptasi tapi terlanjur menyelam ke dunia lain, alhasil hilanglah siapa kita sesungguhnya. Semua memiliki peran masing-masing dan tak perlu ikut-ikutan urusan lain. Sadar diri menjadi kunci mengapa negara kita selalu “berisik” bahkan untuk hal sepele.

Seorang koruptor perlu sadar diri. Seorang kyai juga harus mengukur diri, seorang presiden hingga seorang penyapu jalanan: perlu sadar dan tahu diri. Masing-masing memiliki perannya masing-masing, apapun konsekwensinya.

Bila telah mengusahakan sadar diri, maka tak perlu menyalahkan orang lain agar dianggap paling benar dan pintar. Sedemikian juga tak perlu merendahkan siapapun agar dianggap paling mulia, tak perlu lagi harta agar dianggap kaya.

Oleh sebab itu, nilai-nilai agama sangat dibutuhkan dalam upaya di atas tadi. Yaitu, dalam rangka menyadarkan diri sehingga menjadi orang yg benar, yg mulia dan kaya raya. Kuncinya, niat lillah dan billah. Bahwa semua itu milik Allah dan segala upaya hanya dariNya, bukan dari kehebatan kita.

Sumenep

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar