dalam Uncategorized

Takut Dosa

Yaa Allah Yaa Rabb, ampunilah dosa-dosa hamba ini: mata hamba, telinga hamba dan hati hamba dari segala macam godaan”, Alif berdoa dalam hati tepat setelah alunan musik dimulai. Musik dangdut kekinian benar-benar menguji dirinya, apalagi tampilan vokalisnya. MasyaAllah, neraka di hadapannya.

Sekejap matanya terseret, tak tersengaja. Bayangan yang akan segera terbentuk harus secepatnya dimusnahkan dengan mengalihkan perhatian hanya kepada Allah SWT.

Ia berusaha menghancurkan rongrongan nafsu. Terus menyeret dirinya kepada hal yang tidak diridhai. Kini ia lebih legah, telah memiliki pengalihan kepada yang lebih bermanfaat. Tetapi, sekali lagi ia tertegun, ada anak sekitar umur enam tahun menyajikan lagu kekinian yang mengumbar maksiat. Benaknya berkata, “mengapa ini bisa terjadi?”. Jiwanya berusaha memberontak atas realitas. “Mengapa bisa?”.

Ia berpikir dalam keramaian musik dangdut, fokus kepada “mengapa keadaan sekarang begini?”. Tentu, ia tidak berusaha berdiskusi dengan orang lain. Bukan karena takut dianggap ‘sok suci’. Ia hanya berusaha bertafakur dan berpikir, menemukan kekuasaan Allah sehingga hatinya disinari dalam kegelapan duniawi.

Ia tak ingin menampakkan kegundahan hatinya akan keadaan tersebut. Ia sadar, ia juga manusia penuh dengan dosa, ia berusaha memperbaiki diri sendiri setiap waktu: bekal untuk kehidupan kelak.

Ia tak berusaha menyadari bahwa dirinya baik atau suci. Karena segala pikiran, hati dan perilakunya disandarkan kepada kesadaran terhadap Dzat yang Maha Tunggal. Alif merasa karena titah Allah. Alif berpikir karena digerakkan oleh Allah. Dan semoga kembali kepadaNya dalam keadaan sadar kepada Allah.

Menurutnya, bisa jadi para penyanyi itu kedudukannya lebih tinggi dibanding para penceramah. ” Penceramah turun dari panggung, tetapi kemudian merasa paling alim, paling banyak ibadahnya dan paling baik kemudian berbangga diri. Penyanyi, turun panggung kemudian menyesal hingga bertaubat dan tak mengulanginya.

Alif berusaha agar hatinya terus dikendalikan, diistiqomahkan hanya kepada Allah semata. Menfanakan segala makhluk dari jiwanya. Ia yakin, dengan melatih diri ingat Allah: lillah dan billah, ia akan dapat menghadapi godaan syaithoni.

Sumenep, 7 Januari 2017

0Shares

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar