dalam Uncategorized

Waktu

Umar bin Khathtahb berkata, “Sesungguhnya aku benci bila melihat seseorang di antara kalian yang berpangku tangan, tanpa amal: amal dunia atapun akhirat”.

Siapakah waktu? Saya tak tahu. Ia ada sejak ribuan tahun yang lalu. Mungkin ada yang tahu, namun tak benar-benar tahu. Juga mereka yang berjam-jam menghabiskan waktu di depan televisi tanpa tujuan yang jelas. Atau pun mereka “penjaga-penjaga” jalanan dengan motornya menunggu dini hari tiba. Atau siapapun, yang terlelap dalam lamunan kosong.


Siapakah waktu? Barangkali orang melihatnya sebagai penanda, tanda telah atau akan “tiba”, dan tanda telah atau akan “pergi”. Sebagian menyaksikan, “ia terlalu jauh untuk dicapai”, “masa lalu itu”. Karena sebenarnya, ia “akan tiba”, dan “tibalah” ia kemudian disusul ia “akan pergi tanpa kembali”. Maka, siapakah waktu? Kemungkinan, waktu itu adalah bayangan yang selalu membayangi sesuatu yang lain.

Kini orang bisa tersenyum bahagia bila mendapatkan segalanya, dan tersenyum kecut bila ia tanpa apa-apa. Ada yang merasa “lebih kecut”, mereka yang tak pernah menyadari bahwa waktu itu kian berkurang. Tak sadar, jatah kehidupannya telah berkurang. Parahnya lagi, waktunya berlalu tanpa banyak manfaat.

Keberadaan waktu bisa menjadi sahabat yang selalu ada dan mendukung seseorang. Tetapi sekaligus ia menjadi pemusnah dan pengrusak bagi siapa saja yang tak pernah menghormatinya. Keberadaan seseorang sekarang, tak lepas dari peran waktu: tumbuh dari kecil, menjadi dewasa dan seterusnya. Bahkan, dalam perkembangan sisi-sisi kemanusian kita. Maka, waktu itu dapat menumbuhkan menjadi lebih baik, atau menghancurkan.

Bagi seorang Yusuf al-Qardhawi, menghilangkan waktu tanpa “apa-apa” merupakan “penghinaan” dan “kedurhakaan” terhadap waktu. Beliau benar-benar menyadari, waktu merupakan bekal utama kehidupan dunia lebih-lebih di akhirat. Masihkah orang itu sanggup tertawa terbahak-bahak, bersenang-senang ria, sementara lima menit kemudian dipastikan oleh malaikat ajalnya tiba?
Saya tak hendak mencemooh mereka yang seolah-olah lupa akan kematiannya. Lupa akan keterbatasan kehidupannya. Saya hanya ingin tahu dan bertanya, “apa yang dapat dikatakan oleh mereka bila ajalnya benar-benar tersisa lima menit lagi”? atau mereka yang diberi kesempatan hidup lagi “meskipun hanya semenit” di dunia ini.

Barangkali waktu itu adalah makhluk yang terus menerus melekat bersama diri seseorang. Ia akan pergi setelah tugasnya selesai, menemani kehidupan makhluk seperti manusia. Suatu saat, ia akan “ditanyakan” kesetiannya pada waktu? Bagaimana ia menjaga dan merawat titipan ilahiyah tersebut?

Akhirnya, tak berlebihan bila dikatakan waktu itu adalah seseorang, dan seseorang itu adalah waktu. Seseorang adalah bagaimana ia mengisi jengkal demi jengkal sawah waktunya dengan tanaman yang tumbuh dan membuahkan. Atau, jangan-jangan yang ditanam itu adalah rerumputan.

0Shares

Tinggalkan Balasan untuk Rusmi Batalkan Balasan

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar